Hubungi Kami"... jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, ..." (Rm. 14:8)

10 HARI RAYA YAHUDI DALAM AlKITAB DAN SEJARAH ISRAEL

 

2. Hari Raya Yahudi ialah Paskah

Inilah hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN, hari-hari pertemuan kudus, yang harus kamu maklumkan masing-masing pada waktunya yang tetap. Dalam bulan yang pertama, pada tanggal empat belas bulan itu, pada waktu senja, ada Paskah bagi TUHAN. (Imamat 23:4-5)

 

Hari raya Yahudi yang kedua adalah hari raya Paskah, yang diperintahkan Tuhan kepada bangsa Israel, untuk merayakannya dalam rangka memperingati peristiwa tertentu yang memperlihatkan kedahsyatan Tuhan. Khususnya dalam pembebasan umat-Nya.

Hari Raya Paskah ini diperingati pada tanggal 14 bulan pertama (Nisan) dalam kalender Israel atau bulan Maret-April pada kalender internasional. Hari Raya ini, secara detil dibahas dalam Keluaran 12:1-13.

Baca juga: ALASAN MANUSIA SALING BERSAING, PENTING DISIMAK …

Paskah dalam bahasa Ibrani adalah פֶּ֖סַח (Pesakh), dalam bahasa Inggris ialah Passover, yang artinya “melompati atau melewati” sesuatu. Kronologisnya adalah Tuhan mengirimkan tulah ke sepuluh atau tulah terakhir kepada Mesir. Tulah terakhir ini adalah matinya semua anak sulung baik manusia maupun hewan di Mesir.

Kecuali bangsa Israel yang diperintahkan Tuhan untuk menyembelih anak domba dan mengoleskan darahnya di ambang pintu rumah-rumah orang Israel, sehingga anak sulung mereka pun selamat. Dan ketika Tuhan melihat ada darah di ambang pintu rumah, maka Tuhan “melewati”. Itulah Paskah.

Lalu Musa memanggil semua tua-tua Israel serta berkata kepada mereka: “Pergilah, ambillah kambing domba untuk kaummu dan sembelihlah anak domba Paskah.

Kemudian kamu harus mengambil seikat hisop dan mencelupkannya dalam darah yang ada dalam sebuah pasu, dan darah itu kamu harus sapukan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu; seorangpun dari kamu tidak boleh keluar pintu rumahnya sampai pagi.

Dan TUHAN akan menjalani Mesir untuk menulahinya; apabila Ia melihat darah pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu itu, maka TUHAN akan melewati pintu itu dan tidak membiarkan pemusnah masuk ke dalam rumahmu untuk menulahi. (Kel. 12:21-24)

Melalui kisah ini maka Paskah adalah pengingat bagaimana Tuhan melepaskan orang Israel dari perbudakan di Mesir. Atau Paskah ialah memperingati keluarnya bangsa Israel, umat pilihan Allah, dari tanah perbudakan di Mesir menuju Tanah Kanaan, Tanah Perjanjian.

Perbudakan di Mesir telah berlangsung selama 430 tahun dan melalui Musa. Tuhan membebaskan bangsa Israel dengan terlebih dahulu mengirimkan tulah kepada bangsa Mesir sampai sepuluh kali.

Baca juga: MENGALAMI PEMELIHARAAN TUHAN (PROVIDENSIA)

Dan tulah terakhir, membuat Firaun terpaksa membiarkan umat Israel keluar dari tanah mereka. Inilah Paskah itu, yakni mengenang peristiwa keluarnya bangsa Israel dari perbudakan Mesir.

Maka Tuhan memerintahkan mereka merayakan Paskah untuk mengenang pembebasan dari Mesir. Sehingga mereka selalu mengingat perbuatan Tuhan yang ajaib tersebut, turun-menurun (Keluaran 12:1-42).

Penggenapan tentang Paskah sangat jelas, yaitu penebusan oleh Yesus Kristus. Domba yang disembelih melambangkan penebusan yang akan dilakukan oleh anak domba Allah. Tuhan Yesus telah menggenapi Paskah Yahudi ini dan menggantinya dengan Paskah Kristen.

Oleh karena itu, Paskah yang dirayakan oleh orang Kristen tidak lagi dalam rangka memperingati keluarnya umat Israel dari perbudakan Mesir. Melainkan memperingati keluarnya atau terbebasnya orang percaya dari perbudakan dosa dan hukuman kekal melalui kematian Yesus.

 

 

3. Hari Raya Yahudi Ialah Roti Tidak Beragi

“Dan pada hari yang kelima belas bulan itu ada hari raya Roti Tidak Beragi bagi TUHAN; tujuh hari lamanya kamu harus makan roti yang tidak beragi. Pada hari yang pertama kamu harus mengadakan pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.

Kamu harus mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN tujuh hari lamanya; pada hari yang ketujuh haruslah ada pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.” (Imamat 23:6-8)

 

Hari raya Yahudi yang ketiga adalah hari raya Roti Tidak Beragi yang dirayakan pada hari kedua setelah Paskah, dan dirayakan selama tujuh hari atau seminggu penuh. Jadi hari raya ini masih terkait atau satu rangkaian dengan hari raya Paskah.

Baca juga: Pergaulan Buruk Merusak Prestasi! Jangan Salah Bergaul…

Hari raya Roti Tidak Beragi diperingati pada tanggal 15-21 bulan pertama (Nisan) dalam kalender Israel atau bulan Maret-April pada kalender internasional. Kronologis Hari Raya Roti Tidak Beragi ini secara detail dibahas dalam Keluaran 12:14-20.

Roti Tidak Beragi dalam bahasa Ibrani ialah חַ֥ג הַמַּצּ֖וֹת  (Khag Hammatsot). Peristiwa dari Hari Raya Roti Tidak Beragi ini, tidak lepas dari peristiwa Paskah. Bangsa Israel sewaktu keluar dari Mesir, mereka keluar secara tergesa-gesa atau terburu-buru, karena telah diusir dari Mesir dan harus bergegas.

Sehingga mereka tidak sempat lagi membuat roti yang beragi, sebab membakar roti dengan ragi akan memakan waktu hingga roti mengembang. Jadi mereka pun memakan roti tidak beragi (Kel. 12:24-39).

Karena tergesa-gesanya bangsa Israel keluar dari Mesir dan hanya bisa memakan roti tak beragi, hal itu kemudian diperingati dengan memakan roti tidak beragi. Inilah hari raya Roti Tidak Beragi.

Di kemudian hari, hari raya Paskah dan Roti Tak Beragi ini sering dianggap satu hari raya saja karena sering digabung dan dirayakan bersama-sama. Sebagaimana seperti tertulis dalam Lukas 22:1, “Hari raya Roti Tidak Beragi, yang disebut Paskah, sudah dekat.”

 

 

4. Hari Raya Yahudi ialah Buah Sulung

TUHAN berfirman kepada Musa: “Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila kamu sampai ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu, dan kamu menuai hasilnya, maka kamu harus membawa seberkas hasil pertama dari penuaianmu kepada imam,

dan imam itu haruslah mengunjukkan berkas itu di hadapan TUHAN, supaya TUHAN berkenan akan kamu. Pada hari kamu mengunjukkan berkas itu kamu harus mempersembahkan seekor domba berumur setahun yang tidak bercela, sebagai korban bakaran bagi TUHAN,

serta dengan korban sajiannya dari dua persepuluh efa tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, sebagai korban api-apian bagi TUHAN yakni bau yang menyenangkan, serta dengan korban curahannya dari seperempat hin anggur.

Sampai pada hari itu juga janganlah kamu makan roti, atau bertih gandum atau gandum baru, sampai kamu telah membawa persembahan Allahmu; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu turun-temurun di segala tempat kediamanmu. (Imamat 23:9-11)

 

Hari raya Yahudi yang keempat adalah hari raya Buah Sulung yang diperintahkan Tuhan kepada bangsa Israel untuk mempersembahkan hasil dari pertanian, korban bakaran, dan korban sajian.

Buah sulung dalam bahasa Ibrani adalah סְפִירַת הָעֹמֶר (Sfirat Ha’omer), sering juga disebut dengan Yom HaBikkurim. Sfirat HaOmer artinya, “menghitung homer atau berkas” yang berbicara tentang hasil pertama dari penuaian jelai di musim semi yang terjadi di tanah Israel.

Baca juga: Pergaulan Buruk Merusak Prestasi! Jangan Salah Bergaul…

Hari Raya Buah Sulung ini diperingati pada tanggal 16 bulan pertama (Nisan) dalam kalender Israel atau bulan Maret-April pada kalender internasional. Diperingati sebagai hari untuk mempersembahkan persembahan kepada Tuhan dari hasil pertanian di Tanah Perjanjian.

Tuhan memerintahkan kepada bangsa Israel, apabila mereka tiba di Tanah Kanaan dan mendapat hasil pertama dari hasil pertanian mereka di negeri yang Tuhan janjikan itu, maka mereka haruslah mempersembahkan hasi pertama kepada Tuhan. Inilah yang disebut Hari Raya Buah Sulung, yang harus mereka lakukan secara terus-menerus, setiap tahunnya.

Mereka diwajibkan memperembahkan hasil pertanian yang pertama kepada Tuhan terlebih dahulu baru dimakan hasilnya. Hal ini memiliki makna bahwa sesungguhnya seluruh hasil panen orang Israel berasal dari Tuhan.

Hasil pertanian yang dipersembahkan biasanya jelai (tumbuhan semacam gandum). Karena hari raya ini jatuh pada musim semi dan tumbuhan inilah yang tumbuh pada musim tersebut. Jadi bangsa Israel ketika tiba di Kanaan, mereka menanam tumbuhan jelai. Dan hasil inilah yang dipesembahkan kepada Tuhan pada hari raya Buah Sulung.

Di zaman Bait Suci sebelum dihancurkan, perayaan ini adalah perayaan untuk membawa persembahan persepuluhan ucapan syukur. Hasil pertanian jelai yang mereka persembahkan adalah seberkas. “maka kamu harus membawa seberkas hasil pertama dari penuaianmu kepada imam.”

Persembahan Buah Sulung hasil pertanian ini, bukanlah seluruh penghasilan yang didapat yang di bawa kepada Tuhan, melainkan seberkas jelai. Kemudian Imam akan mengambil berkas-berkas yang dipersembahkan dan mengangkat beberapa berkas ke udara dan melambai-lambaikannya ke setiap arah.

Dengan cara ini jemaat akan melihat dan mengakui pemeliharaan Tuhan atas mereka dan kedaulatan Tuhan atas seluruh bumi.

Disamping bangsa Israel mempersembahkan hasil pertanian, persembahan wajib lainnya adalah mempersembahkan seekor domba sebagai korban bakaran, dan korban sajian berupa tepung terbaik, dan korban curahan dari anggur (Imamat 23:12-14).

Bahkan pada hari raya itu, mereka tidak boleh makan roti, bertih gandum, atau gandum baru sebelum mempersembahkan korban bakaran dan korban sajian.

Baca selanjutnya: Klik NEXT di bawah ini, atau klik DI SINI untuk melanjutkan ke isi artikel berikutnya.

Loading...

Tinggalkan komentar Anda

error:
Shalom...
Mau curhat? Atau mau bertanya?
Powered by