Hubungi Kami"... jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, ..." (Rm. 14:8)

5 MAKNA KEMERDEKAAN ROHANI SEJATI, PENTING DIKETAHUI…

 

2. Makna Kemerdekaan Rohani ialah Bebas dari Pemikiran “Mencurigai” Tuhan

Fakta membuktikan bahwa ada banyak orang Kristen yang gagal “di tengah” perjalanan iman mereka. Sudah bertahun-tahun mengikut Tuhan, tetapi ternyata mereka “gagal paham” atau gagal mengerti maksud Tuhan dalam hidup mereka.

Tentu ada banyak alasan seseorang bisa meninggalkan Tuhan, bisa karena jabatan, cinta, harta, ketenaran, bisa juga karena kecewa, dan lain sebagainya. Dan di antara alasan tersebut, tentu juga alasan yang tidak kalah kuat dengan alasannya lainnya sehingga sebagian orang Kristen berpaling dari imannya, yakni karena pemikirannya “mencurigai” Tuhan.

Baca juga: Pergaulan Buruk Merusak Prestasi! Jangan Salah Bergaul…

Padahal, Tuhan memiliki rencana yang indah bagi setiap orang percaya sama seperti rencana indah-Nya bagi Israel yang tertulis dalam Yeremia 29:11.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

Namun sayangnya, dalam penantian mereka, pengharapan mereka kepada Kristus pun memudar. Padahal setiap orang Kristen akan mengalami pembentukan iman dan diizinkan Tuhan mengalami pencobaan sebagai bagian dari proses pemurnian iman, Sehingga seseorang semakin teguh di dalam Tuhan.

Pencobaan-pencobaan itu tentu saja bukan dari Tuhan, melainkan oleh keinginan diri sendiri. Sebagaimana disebutkan dalam Yakobus 1:13-16.

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.

Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat! Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.

Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.

Mudahnya, seseorang meninggalkan Tuhan karena pemikirannya mencurigai Tuhan. Ia berpikir bahwa Tuhan yang membawanya ke dalam kesulitan-kesulitan demi kesulitan. Atau kasih Tuhan itu tidak riil, sebab buktinya ia merasa Tuhan seperti mengabaikan dirinya.

Setiap orang pasti akan mengalami fase merasa gersang, kering, atau seolah-olah Tuhan jauh dalam hidupnya. Dan seolah-olah Tuhan tidak menghiraukannya. Masa-masa ini adalah masa pertarungan iman seseorang, apakah fight atau berhenti karena pikirannya penuh curiga kepada Tuhan.

Seharusnya kita memiliki komitmen yang tinggi, apapun yang terjadi saya tetap ikut Tuhan.

Seperti halnya Habakuk berkata, “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,

namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” (Habakuk 3:17-18)

Baca juga: Dokter Berhati Mulia; Rela Menggelandang Tiap Malam…

Atau seperti pemazmur yang berkata “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” (Mazmur 73:26)

Janganlah kita mencurigai Tuhan dengan berpikir seolah-olah Dia menyulitkan kita, sebab persoalan hidup yang kita alami sebenarnya adalah pencobaan biasa dan Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita (1 Kor. 10:13).

Orang yang telah mengalami kemerdekaan rohani yang sejati, ia tidak mencurigai Tuhan, bahkan mensyukuri dan mengikut Tuhan dengan segenap hati. Sebaliknya orang yang masih “mencurigai” Tuhan dan menganggap Tuhan jauh baginya adalah orang yang belum mengalami hidup yang “merdeka di dalam Kristus”.

Maukah kita mengalami merdeka rohani? Jangan putus asa, teruslah berharap kepada Tuhan. Dan perkarakanlah rohani kita di hadapan Tuhan, mintalah agar ia membentuk kita sesuai dengan kehendak-Nya.

 

 

3. Bebas dari Kecintaan Dunia

Salah satu hambatan seseorang tidak mengalami kemerdekaan rohani yang sejati atau tidak hidup merdeka di dalam Kristus adalah karena kecintaan dunia. Sayangnya ia lebih mencintai dunia ini daripada Tuhan.

Tuhan Yesus berkata barangsiapa menyayangi nyawanya ia tidak layak bagi-Nya, “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Mat. 8:35-37)

“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. (Luk. 14:26)

Baca juga: Agar Fokus Berdoa kepada Tuhan Setiap Saat

Orang menyayangkan nyawanya, berarti ia masih memiliki kecintaan dunia. Kehilangan nyawa tentu bukan berarti berbicara takut mati, tetapi kehilangan nyawa adalah takut kehilangan hal-hal yang dianggapnya berarti di dunia ini. Atau takut kehilangan segalanya.

Dengan kata lain, orang yang menyayangkan nyawanya adalah orang yang masih terikat dengan dunia atau hatinya terpaut dengan kecintaan dunia. Ciri-ciri orang seperti ini adalah ia bangga dengan kepemilikannya di dunia ini dan sulit melepaskannya untuk hal yang bernilai kekekalan.

Ciri seperti ini, digambarkan dalam Alkitab. Kisah ini terdapat dalam Matius 19:16-22. Ada seorang anak muda yang datang kepada Tuhan Yesus yang bertanya perbuatan baik apa yang harus dilakukan agar masuk sorga.

Seluruh hukum Taurat sangat ia taati, bahkan sudah melakukannya. Tetapi ketika Tuhan menyuruhnya menjual hartanya, hal itu sangan berat baginya, “Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.” (Mat. 19:22)

Orang muda tersebut masih cinta dunia. Sehingga ia berat menjual harta miliknya dan mengikut Yesus. Padahal, maksud Tuhan Yesus tentu “jangan terikat dengan dunia”.

Orang-orang yang mengalami kemerdekaan rohani yang sejati adalah orang-orang yang bebas dari kecintaan dunia. Harta dan segala miliknya ia gunakan untuk kemuliaan nama Tuhan saja.

Orang-orang seperti ini rela kehilangan segalanya asal jangan kehilangan Kristus.

Baca juga: 7 JENIS BAPTISAN KRISTEN YANG PERLU DIKETAHUI …

Agar kita benar-benar merdeka di dalam Kristus, janganlah kita “mencintai dunia ini”, melainkan berani membela pelayanan atau pekerjaan Tuhan dengan rela kehilangan segala-galanya.

Marilah kita melakukan segala sesuatu untuk Tuhan, sebagaimana tertulis dalam 1 Korintus 10:31, “Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”

Mulailah bangun kerohanian kita dengan hanya focus kepada Tuhan saja dan jangan cinta uang, bahkan mencintai dunia ini.

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. (1 Tim. 6:10)

Baca selanjutnya: Klik NEXT di bawah ini, atau klik DI SINI untuk melanjutkan ke isi artikel berikutnya.

Tanggapan Anda:

error: