Hubungi Kami"... jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, ..." (Rm. 14:8)

Berani Menerima Baptisan? Teguhlah dalam Iman…

Berani Menerima Baptisan
Fokus Hidup
Baptisan adalah juga berbicara tentang rela menderita bagi Kristus. Benarkah? Apa arti atau maksud baptisan dalam pembahasan ini? Bersediakah kita menderita untuk Kristus? Mengapa orang Kristen harus pikul salib? Simak tulisan yang berjudul, Berani Menerima Baptisan? Teguhlah dalam Panggilan-Nya… ini.”

 

Bacaan Nats: Markus 10:35-40; Yakobus 1:12
Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus 
dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami harap supaya Engkau kiranya 
mengabulkan suatu permintaan kami!" (ay. 35)
 
Jawab-Nya kepada mereka: "Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?" 
Lalu kata mereka: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu 
kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang 
di sebelah kiri-Mu." (ay. 36 - 37)

Tetapi kata Yesus kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa yang 
kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan 
dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?" (ay. 38)
 
Jawab mereka: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: 
"Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan 
dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. (ay. 39)

Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, 
Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang 
bagi siapa itu telah disediakan." (40)

Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila 
ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang 
dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. (Yak. 1:12)

 

Perihal baptisan yang secara umum sering diketahui banyak orang Kristen adalah salah satu sakramen wajib dalam ajaran Kekristenan. Di mana orang yang percaya diharuskan untuk dibaptis sebagai bukti ketaatan atau meterai pertobatan bahwa ia menjadikan Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.

Dengan kata lain, baptisan juga berarti sebagai bentuk memproklamasikan kepada dunia, baik di hadapan Tuhan maupun jemaat bahwa ia sekarang adalah milik Tuhan atau menjadi anak Tuhan dengan memberikan diri untuk dibaptis sebagai tanda pertobatan.

Baca juga: 7 MAKNA KEMATIAN KRISTUS BAGI UMAT MANUSIA 

Kini, ia telah lahir baru atau mengenakan manusia baru di dalam Kristus.

Tetapi tentu baptisan bukanlah syarat mutlak keselamatan, perlu ada pembaharuan hidup secara berangsur sebagai proses menjadi seperti Kristus. Karena itu baptisan bukan final melainkan adalah awal perjalanan kekristenan untuk melangkah dalam kehendak Tuhan.

Namun, istilah “baptisan” dalam Alkitab Perjanjian Baru, bukan hanya disebut sebagai sakramen gereja saja. Kata ini, juga disebutkan oleh Tuhan Yesus.

Sewaktu Yakobus dan Yohanes hendak memohon kepada Tuhan Yesus untuk menjadi yang terbesar, Tuhan Yesus mengajukan syarat yang harus mereka terima adalah “… Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?” (Mrk 10:38-39).

Jawaban spontan keduanya adalah mereka dapat dibaptis dengan baptisan seperti yang akan di terima Kristus.

Makna baptisan dalam dialog ini bukan berbicara tentang sakramen baptisan. Memang Tuhan Yesus sebelum mengawali pelayanan Ia menerima baptisan Yohanes atau dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Tetapi baptisan dalam konteks ini berbicara tentang penderitaan yang akan diterima-Nya di atas kayu salib.

Di dalam Lukas 12:50, Tuhan Yesus juga menjelaskan bahwa Ia harus menerima baptisan.

Istilah baptisan ini, juga bukan diartikan mengenai baptisan yang sudah diterima Tuhan Yesus di awal Ia memulai pelayanan-Nya di muka bumi, tetapi menunjuk kepada di kemudian hari yang akan dialami Tuhan Yesus, terhitung sejak dari perkataan-Nya tersebut.

Baca juga: Tuhan Yesus Datang untuk Melayani! Teladanilah Kristus…

Kata “baptisan” dalam Bahasa Yunani adalah Baptisomai dari kata Baptiso yang artinya “to baptize”. Kata ini terdapat dalam Matius 28:19; Markus 16:16. Namun, bila dilihat dari konteks natsnya, maka dapat ditemukan bahwa masing-masing memiliki arti berbeda sesuai dengan konteksnya.

Baptiso dalam Matius 28:19; Markus 16:16, berbicara tentang sakramen baptisan, sedangkan dalam Markus 10:38 ini, berbicara tentang penderitaan, “… dan masuk ke dalam kancah penderitaan yang akan Aku masuki?”

Jadi jelas pengertian baptisan di sini adalah gambaran penderitaan yang akan dialami Tuhan Yesus untuk membayar dosa umat manusia dengan darah-Nya yang mahal. Alkitab secara tertulis sudah memberikan kesaksian dengan benar atas pengorbanan Kristus dan barangsiapa percaya beroleh keselamatan.

Seperti halnya Tuhan Yesus bertanya kepada Yakobus dan Yohanes apakah mereka bersedia menerima baptisan, pertanyaan ini patut kita renungkan. Tuhan pun seolah bertanya apakah kita bersedia menerima baptisan atau bersedia menderita bagi Dia.

Meski ajaran Kristen saat ini banyak didominasi dengan ajaran berkat, namun tidak bisa dikesampingkan bahwa untuk mengikut Tuhan harus memikul salib. Sebab orang yang tidak mau memikul salibnya tidak layak bagi Tuhan.

Hal ini disebutkan dalam Markus 10:38-39, yakni “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.”

Menderita bagi Tuhan adalah keharusan bagi orang percaya.  Alkitab menyebutkan bahwa merupakan kasih karunia apabila seseorang bersedia menderita dalam mengikut Yesus.

Baca juga: Mengingat Kebaikan Tuhan, Inilah Manfaatnya…

Dalam 1 Petrus 2:19-21, juga disebutkan, “Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.

Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.

Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.”

Kristus telah memberikan teladan nyata bagaimana seseorang dalam menjalankan kehendak Bapa harus rela menderita. Ia harus mengikuti jejak-Nya Tuhan Yesus, yakni rela menderita, bahkan sampai mati di atas kayu salib.

Standar dalam mengikut Tuhan Yesus adalah bersedia menderita bagi kemuliaan-Nya.

Sayangnya, banyak ajaran yang ada saat ini, hanya mengajarkan tentang mengikut Tuhan pasti diberkati dan hidup berkelimpahan. Mereka hanya melihat kemahakuasaan Tuhan Yesus sewaktu Ia telah bangkit saja.

Pastilah kemahakuasaan Tuhan Yesus setelah kebangkitan-Nya itu maha dahsyat karena segala kuasa di sorga dan di bumi telah diberikan kepada-Nya (Mat. 28:18), sebab Ia telah menyelesaikan misi penyelamatan Bapa terhadap manusia.

Namun, sayangnya banyak orang Kristen hanya mengklaim kemahakuasaan Tuhan Yesus tanpa melihat apa kehendak Tuhan dalam hidupnya. Tidak sedikit orang yang mengikut Tuhan dengan tujuan agar diberkati secara jasmani, sembuh dari sakit penyakit, atau agar terlihat rohani.

Sehingga ketika kenyataannya di dalam hidupnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, hatinya menjadi kecewa bahkan membenci kebenaran Alkitab. Mereka kecewa dan mempersalahkan Tuhan.

Hal ini adalah bukti dari kedangkalan iman atau ketidaktahuan akan Tuhan yang benar. Sebab mereka hanya melihat kemahakuasaan Tuhan yang harus dinyatakan dalam hidupnya bukan berusaha melakukan kehendak Tuhan.

Mereka berperkara dengan Tuhan namun hanya untuk perkara fana semata atau untuk kepentingan dirinya sendiri. Tidak untuk hidup melakukan kehendak Bapa atau hidup seperti Kristus hidup.

Padahal semua orang Kristen seharusnya berani menerima baptisan. Berani pikul salib dan mempertahankan imannya apapun yang terjadi. Serta rela menderita untuk kerajaan Allah atau mengejar nilai kekekalan.

Tidak bisa ditawar dan merupakan standar Alkitab bahwa orang Kristen harus rela menderita atau berani menerima baptisan, agar ia dapat meraih janji Tuhan, yakni kehidupan kekal, di mana kebahagiaan sejati yang kekal dialaminya.

Baca juga: Fokus Hidup Orang Percaya; Bangunlah Kerohanian Anda…

Dan, ia pun beroleh mahkota kehidupan karena imannya tetap bertahan di kala menghadapi menghadapi pencobaan atau ujian iman.

Karena itu, marilah kita berani menerima baptisan, pikul salib, atau bersedia menderita bagi Kristus.

 

DOA
Bapa sorgawi, ajarku untuk selalu bersedia menderita bagi Kristus atau setia ikut Tuhan hingga akhir hidupku. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.

Berani Menerima Baptisan

 

(Dilarang meng-copy dan publish ulang tulisan ini, tanpa seijin penulis)

Jika Anda merasa diberkati dengan artikel “Berani Menerima Baptisan? Teguhlah dalam Panggilan-Nya…” ini, bagikanlah ke sosmed (Facebook, Twitter, Linkedin, dll.) Anda.

Like (Sukai) juga Fanspage Facebook Fokus Hidup yang ada di situs ini atau klik DI SINI untuk mendapatkan info-info terbaru dari fokushidup.com.

Dan bergabunglah juga dengan grup Facebook Fokus Hidup dengan cara klik DI SINI.

Silahkan tinggalkan komentar Anda di bawah artikel ini untuk menanggapi, bertanya, ataupun memberikan saran dan kritik.

 

Kunjungi juga beberapa artikel di bawah ini yang menguatkan iman Saudara!

 

 

Loading...

Tinggalkan komentar Anda

error:
Shalom...
Mau curhat? Atau mau bertanya?
Powered by