Hubungi Kami"... jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, ..." (Rm. 14:8)

Sang Martir Tuhan! Berjuanglah Hingga Akhir Hidup…

Sang Martir
Via img: https://www.wattpad.com


Fokus Hidup
– “Kisah mengharukan seorang pahlawan kemanusiaan dalam artikel ini, menjadi inspirasi bagi kita untuk mengakhiri pertandingan iman dengan baik. Bersediakah kita berjuang hingga akhir? Bagaimana caranya? Simak renungan berjudul Sang Martir Tuhan! Berjuanglah Hingga Akhir Hidup… ini.

 

Bacaan Nats: Wahyu 14:12-13; Roma 6:11-13
 Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah
dan iman kepada Yesus. (ay. 12)

Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: "Berbahagialah orang-orang mati yang 
mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini." "Sungguh," kata Roh, "supaya mereka boleh beristirahat 
dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka." (ay. 13)
(Wahyu 14:12-13)

Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup 
bagi Allah dalam Kristus Yesus. (ay. 11)

Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan 
lagi menuruti keinginannya. (ay. 12)

Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai 
senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu 
mati, tetapi yang sekarang hidup. 

Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata 
kebenaran. (ay. 13)
(Roma 6:11-13)

 

 

Aksi teroris bom bunuh diri di Surabaya pada Minggu, 13 Mei 2018, yang menyasar 3 gereja, sungguh mengejutkan. Gereja-gereja tersebut ialah Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, GKI, dan GPPS.

Aksi ini menyisakan duka. Namun, sebagai orang percaya, kita harus melawan aksi ini dengan kasih, kebaikan, pengampunan, memberkati, dan mendoakan mereka (Mat 5:44; Luk 6:27-28), bukan dengan perilaku yang sama sebab musuh kita bukan darah dan daging. Dan yang terpenting agar mata rohani mereka terbuka dan bertobat.

Baca juga: Di Proses Tuhan! Apa Maksud Tuhan Dibaliknya?

Di antara kisah menyedihkan ini, ada aksi heroik dari seorang koordinator relawan keamanan Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB), salah satu korban ledakan bom di Gereja tersebut.

Pria bernama lengkap Aloysius Bayu Rendra Wardhana yang disapa Bayu, menghadang sepeda motor yang dikendarai dua remaja pelaku bom yang hendak masuk ke dalam gereja.

Kedua remaja yang adalah bersaudara berusia 16 dan 18 itu, mengendarai motor membawa bom dengan cara dipangku. Karena dihadang, kedua pelaku itu langsung meledakan diri, akibatnya Bayu tewas di tempat.

Seandainya, pria yang juga berprofesi fotografer ini, tidak menghadang motor pelaku, maka korban yang berjatuhan akan semakin banyak atau jemaat yang di dalam gereja tidak akan selamat. Aksi nekatnya ini memang mencegah jatuhnya lebih banyak korban, namun ia mengorbankan dirinya sendiri.

Bayu menjadi martir karena berani menghadang laju sepeda motor yang dikemudikan pelaku bom tersebut. Seorang aktifis gereja setempat yang meninggalkan dua orang anak ini, dinobatkan sebagai pahlawan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela.

Sang Martir
Via img: http://www.tribunnews.com

“Mas Bayu sudah dianggap pahlawan bagi umat gereja sini (Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Surabaya, red) karena kalo tidak dihadang Mas Bayu, mungkin kejadiaannya beda lagi, karena itu mau mendekat pintu gereja yang ramai jemaat,” ungkap Hermanto Dwi, salah satu teman Bayu yang juga merupakan petugas keamanan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Ngagel, Surabaya.

Baca juga: 7 PASUTRI DALAM ALKITAB; PEMBELAJARAN MEMBANGUN KELUARGA

Memang, sang pahlawan kemanusiaan ini, yang disebut berada di titik terdekat dengan pelaku bom bunuh diri, tentu tidak menyangka bahwa hari itu adalah hari terakhir baginya.

Tetapi karena sikapnya yang berani, takut akan Tuhan, dan penuh tanggung jawab, ia begitu siaga bahkan berani menghadang bila ada yang terlihat mencurigakan seperti yang dilakukannya di akhir hidupnya ini. Pengorbanannya ini sungguh tak ternilai.

Tanggung jawab dan dedikasinya dalam melayani Tuhan dan pekerjaannya, tidak saja terlihat dari track record-nya Sang martir ini, juga terlihat dari status terakhirnya di whatsapp sebelum berangkat ke gereja, sebagaimana di unggah oleh akun Twitter @_fransiskancis.


“Selamat pagi, Tuhan memberkati, mandi cuss SMTB tugas negara memanggil,” tulis Bayu di akun whatsapp-nya.

Aksi heroik sang martir ini layak disebut sebagai pahlawan kemanusiaan dan martir Tuhan. Pengorbanannya ini, tentu menjadi inspirasi sebagai pahlawan iman dan pahlawan kemanusiaan.

Perlu kita akui bahwa kematian setiap orang ada di tangan Tuhan yang Maha Kuasa. Dia-lah yang berdaulat penuh atas kehidupan seseorang dan yang menentukan akhir hidup seseorang. Tetapi yang perlu kita pahami bahwa “Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya,” (Mazmur 116:15).

 

Loading...

Tanggapan Anda:

error: