Hubungi Kami"... jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, ..." (Rm. 14:8)

10 HARI RAYA YAHUDI DALAM AlKITAB DAN SEJARAH ISRAEL

 

5. Hari Raya Yahudi ialah Pentakosta

Kemudian kamu harus menghitung, mulai dari hari sesudah sabat itu, yaitu waktu kamu membawa berkas persembahan unjukan, harus ada genap tujuh minggu; sampai pada hari sesudah sabat yang ketujuh kamu harus hitung lima puluh hari; lalu kamu harus mempersembahkan korban sajian yang baru kepada TUHAN.

Dari tempat kediamanmu kamu harus membawa dua buah roti unjukan yang harus dibuat dari dua persepuluh efa tepung yang terbaik dan yang dibakar sesudah dicampur dengan ragi sebagai hulu hasil bagi TUHAN.

Beserta roti itu kamu harus mempersembahkan tujuh ekor domba berumur setahun yang tidak bercela dan seekor lembu jantan muda dan dua ekor domba jantan; semuanya itu haruslah menjadi korban bakaran bagi TUHAN, serta dengan korban sajiannya dan korban-korban curahannya, suatu korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.

Kemudian kamu harus mempersembahkan seekor kambing jantan sebagai korban penghapus dosa, dan dua ekor domba yang berumur setahun sebagai korban keselamatan.

Imam harus mengunjukkan semuanya beserta roti hulu hasil itu sebagai persembahan unjukan di hadapan TUHAN, beserta kedua ekor domba itu. Semuanya itu haruslah menjadi persembahan kudus bagi TUHAN dan adalah bagian imam.

Pada hari itu juga kamu harus mengumumkan hari raya dan kamu harus mengadakan pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya di segala tempat kediamanmu turun-temurun.

Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu, semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing; Akulah TUHAN, Allahmu.”  (Imamat 23:15-22)

 

Hari raya Yahudi yang kelima adalah hari raya Pentakosta, juga merupakan salah satu dari tiga hari raya ziarah (shalosh regalim) di mana setiap pria dewasa Yahudi diharuskan datang ke Yerusalem ( Ul 16:16).

Pada hari raya ini, bangsa Israel dapat menuai hasil panen gandum. Hari Raya Pentakosta ini mirip dengan hari raya Buah Sulung, yakni sama-sama hari raya panen dan mempersembahkan buah sulung dari hasil panen pertama.

Bedanya, dalam Hari Raya Buah Sulung yang di panen adalah jelai dan mempersembahkan seberkas jelai, sedangkan dalam Hari Raya Pentakosta ini yang dipersembahkan adalah hasil panen gandum dan gandum tersebut diolah menjadi roti.

Karena itu, hari raya ini merupakan hari raya untuk memperingati “panen raya”, khususnya gandum, sebagai hasil pertanian yang dituai pada masa tersebut di Israel. Hari Raya ini diperingati pada tanggal 6 bulan ketiga (Sivan) dalam kalender Israel atau bulan Mei-Juni pada kalender internasional.

Baca juga: Dokter Berhati Mulia; Rela Menggelandang Tiap Malam…

Pentakosta dalam bahasa asli ialah שָׁבֻעֹת (Shavuot) yang artinya adalah Minggu-Minggu atau tujuh Minggu. Tuhan memerintahkan agar bangsa Israel merayakan hari raya Pentakosta selama tujuh minggu.

Bagi orang Yunani berbahasa Yahudi dan orang-orang Kristen non-Yahudi, hari Raya ini disebut Kelimapuluh karena terjadi lima puluh hari setelah hari Sabat itu (Im. 23:16).

Persembahan di hari raya ini adalah harus membawa dua buah roti yang terbuat dari tepung gandum ke hadapan Tuhan sebagai korban sajian. Selain itu, harus juga mempersembahkan korban bakaran. Berupa tujuh ekor domba muda, seekor lembu muda, dan dua ekor domba jantan dewasa sebagai korban bakaran.

Juga, mereka harus mempersembahkan seekor kambing jantan sebagai korban penghapus dosa dan dua ekor domba muda sebagai korban keselamatan. Dan tidak boleh melakukan pekerjaan berat dan tidak boleh menyabit habis ladang. Harus ditinggalkan untuk orang-orang miskin (Imamat 23:17-22).

Sejak Bait Suci dihancurkan pada tahun 70 M, pelaksanaan Hari Raya Shavuot oleh orang-orang Yahudi telah mengalami perubahan.

Untuk memperingati kesetiaan Tuhan, para rabi menemukan bahwa orang-orang Yahudi datang ke gunung Sinai tiga bulan setelah hari Paskah (Kel 19:1). Akhirnya perayaan Shavuot termasuk juga merayakan hari di mana Musa menerima Taurat.

Orang Kristen mengenal hari raya ini sebagai hari pencurahan Roh Kudus. Sebab pencurahan Roh Kudus terjadi, bertepatan dengan hari raya ini.

 

 

6. Hari Raya Yahudi Ialah Peniupan Serunai

TUHAN berfirman kepada Musa: “Katakanlah kepada orang Israel, begini: Dalam bulan yang ketujuh, pada tanggal satu bulan itu, kamu harus mengadakan hari perhentian penuh yang diperingati dengan meniup serunai, yakni hari pertemuan kudus.

Janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat dan kamu harus mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN.” (Im. 23:23-25)

 

Hari raya Yahudi yang keenam adalah hari raya Peniupan Serunai atau Sangkakala (Ibr.יוֹם תְּרוּעָהYom Teruah) yang jatuh pada bulan ketujuh. Pada hari raya ini umat Israel tidak boleh melakukan suatu pekerjaan yang berat dan harus melakukan perhentian penuh.

Hari Raya Peniupan Serunai diperingati pada tanggal 1 bulan ketujuh (Tisri) dalam kalender Israel atau bulan September-Oktober pada kalender internasional.

Baca juga: Dokter Berhati Mulia; Rela Menggelandang Tiap Malam…

Pada hari raya Peniupan Serunai ini, bangsa Israel mengadakan perkumpulan kudus dengan meniup serunai. Sebagaimana yang diperintahkan Tuhan kepada bangsa tersebut. Serunai atau Sangkakala dalam tradisi Yahudi, terbuat dari tanduk kambing jantan yang disebut Shofar.

Yang wajib dilakukan pada hari raya ini selain meniup Sangkakala ialah mereka juga harus mempersembahkan korban api-apian kepada Tuhan. Mengenai berbagai macam persembahan yang harus dipersembahkan oleh bangsa Israel pada hari raya Peniupan Serunai, dijelaskan secara detil dalam Bilangan 29:1-6.

Di kemudian hari, orang Yahudi menyebut hari Raya Peniupan Serunai ini sebagai רֹאשׁ הַשָּׁנָה (Rosh Hashanah), yakni hari raya tahun baru mereka.

Rosh HaShanah menjadi hari pertobatan, di mana umat Israel mengadakan introspeksi akan kondisi kerohanian mereka dan melakukan perbaikan-perbaikan di dalam kehidupan mereka. Agar di tahun depan mereka dapat menyenangkan hati Tuhan.

Setiap hari shofar ditiup di sinagoga untuk mengingatkan umat bahwa hari pertobatan telah mendekat. Shofar ditiup dengan 4 macam suara: Tekia (tiupan), Shevarim (patah-patah), Teruah (alarm), Tekia Gedolah (tiupan panjang).

Bila dunia internasional merayakan Tahun baru pada tanggal 1 di bulan Januari di awal tahun, orang Yahudi mengadakan hari raya tahun baru pada bulan ketujuh menurut kalender Israel.

 

 

7. Hari Raya Yahudi ialah Pendamaian

TUHAN berfirman kepada Musa: “Akan tetapi pada tanggal sepuluh bulan yang ketujuh itu ada hari Pendamaian; kamu harus mengadakan pertemuan kudus dan harus merendahkan diri dengan berpuasa dan mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN.

Pada hari itu janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan; itulah hari Pendamaian untuk mengadakan pendamaian bagimu di hadapan TUHAN, Allahmu. Karena setiap orang yang pada hari itu tidak merendahkan diri dengan berpuasa, haruslah dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya.

Setiap orang yang melakukan sesuatu pekerjaan pada hari itu, orang itu akan Kubinasakan dari tengah-tengah bangsanya. Janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun di segala tempat kediamanmu.

Itu harus menjadi suatu sabat, hari perhentian penuh bagimu, dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa. Mulai pada malam tanggal sembilan bulan itu, dari matahari terbenam sampai matahari terbenam, kamu harus merayakan sabatmu.” (Imamat 23:26-32)

 

Hari raya Yahudi yang ketujuh adalah hari raya Pendamaian. Sama seperti pada hari raya Peniupan Serunai sebagai hari pertemuan kudus, umat Israel juga harus berhenti dari segala aktivitas dan harus melakukan perhentian penuh.

Pada hari raya ini, bangsa Israel diwajibkan selain melakukan perhentian kudus, juga harus merendahkan diri disertai dengan puasa dan mempersembahkan korban kepada Tuhan. Hari Raya ini diperingati pada tanggal 10 bulan ketujuh (Tisri) dalam kalender Israel atau bulan September-Oktober pada kalender internasional.

Pendamaian dalam bahasa Ibrani יוֹם כִּפּוּר (Yom Kippur), dipandang sebagai hari raya tersuci dalam kalender Yahudi. Di sinilah hari tersakral bagi bangsa Israel, di mana mereka diperdamaikan antara Allah dan manusia melalui korban penghapus dosa, di samping ada juga lainnya, seperti korban bakaran dan korban sajian (Bil. 29:7-11).

Dosa-dosa umat Israel didamaikan dengan Allah melalui hari Pendamaian ini. Untuk itu, mereka harus mempersembahkan korban-korban kepada Tuhan. Tidak hanya mempersembahkan korban, mereka juga harus merendahkan diri di hadapan Tuhan dengan berpuasa.

Hal ini wajib dilakukan oleh umat Israel, jika tidak, setiap orang yang tidak merendahkan diri dengan berpuasa akan dibinasakan Tuhan, yakni harus dilenyapkan dari bangsa tersebut (Imamat 23:28-32).

Imam Besar berperan untuk mengadakan pendamaian bagi seluruh umat Israel dengan masuk ke Ruang Maha Kudus Bait Suci setahun sekali. Dengan memercikkan darah domba ke atas tutup pendamaian di Tabut Perjanjian yang ada di ruang Maha Kudus tersebut. Hal ini dilakukan sebagai lambang pengampunan atas dosa umat-Nya (Im. 16:1-34).

Baca juga: Agar Fokus Berdoa kepada Tuhan Setiap Saat

Imamat 16 memberikan rincian perayaan hari raya ini yang terpusat pada korban dua ekor kambing jantan. Kambing yang pertama namanya Khatat yang akan dipersembahkan dan diolah bagi Tuhan sebagai korban penghapus dosa dan pendamaian.

Kambing kedua disebut Azazel atau kambing korban mengangkut kesalahan umat-Nya, yang dibawa ke hadapan Imam Besar. Kambing kedua ini dilepaskan ke padang gurun sebagai lambang membawa pergi dosa-dosa bangsa keluar dari tengah-tengah mereka.

Setelah Bait Suci dirubuhkan, para rabi menggantikan korban binatang (kapparah) dengan tefilah (doa), teshuvah (pertobatan) dan tzedakah (amal).

Kedatangan Kristus pertama kali ke dalam dunia, tentu adalah menggenapi hari raya Pendamaian ini. Dialah korban darah Anak Domba yang menjadi penghapus dosa umat manusia sekali untuk selama-lamanya.

Artinya tidak perlu lagi umat Tuhan mempersembahkan korban, sebab Kristus telah menebus dosa manusia melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib (Ibrani 9:1-28). Kristus juga adalah Imam Besar Agung (Ibrani 4:14-16). Melalui Kristus seluruh umat manusia mengalami pengampunan dosa dan berpotensi memiliki hidup kekal.

Baca selanjutnya: Klik NEXT di bawah ini, atau klik DI SINI untuk melanjutkan ke isi artikel berikutnya.

Tanggapan Anda:

error: