Hubungi Kami"... jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, ..." (Rm. 14:8)

7 dampak Natal bagi Dunia yang perlu Anda Ketahui

 

3. Dampak Natal Merupakan Jalan Keselamatan; Tanpa Natal Tidak Ada Keselamatan

Dampak natal berikutnya bagi dunia adalah kelahiran Kristus atau natal membuka jalan kepada manusia untuk beroleh keselamatan dari Allah. Dengan kata lain, tanpa natal maka tidak akan ada jalan keselamatan dan manusia tidak dapat sampai kepada Bapa.

Kristus pengantara kepada Bapa, Sang Imam Agung, merupakan jalan, kebenaran, dan hidup bagi dunia yang merespons kasih-Nya. Melalui Tuhan Yesus, manusia beroleh jalan keselamatan yang jelas, pasti, benar, dan riil.

Baca juga: Natal sebuah Pemberian atau Perayaan? Ini Sikap yang Seharusnya…

Yohanes 14:6 menyebutkan, bahwa Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. 

Pernyataan Tuhan Yesus ini jelas menyiratkan bahwa Tuhan Yesuslah jalan keselamatan itu sendiri. Apapun usaha seseorang dalam mengerjakan keselamatan, tanpa Kristus lahir dan mengorbankan nyawa-Nya bagi manusia, maka takkan ada keselamatan.

Tidak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan dirinya bahkan menjadi Allah atau manusia separuh dewa. Dengan jalan pertapa pun, tidak bisa menggantikan kodratnya sebagai manusia berdosa.

Dirinya sendiri saja tidak bisa diselamatkan, bagaimana menjadi Juruselamat bagi orang lain? Perbuatan baik seseorang pun tidak bisa menutupi dosanya dan tidak bisa membebaskannya dari hukuman kekal di ujung penghakiman Kristus.

Baca juga: Dari Betlehem ke Golgota, Jadilah Murid Kristus Sejati…

Hal ini membuktikan bahwa manusia membutuhkan Juruselamat. Manusia membutuhkan Yesus, Sang Juruselamat satu-satunya orang berdosa. Melalui Kristus, manusia kembali ke rancangan Allah yang semula.

Proyek keselamatan yang dikerjakan Kristus adalah tidak hanya menonjolkan kematian dan kebangkitan-Nya saja, melainkan juga oleh kelahiran-Nya bagi dunia. Inilah dampak natal dan benarlah bahwa tanpa natal, takkan ada keselamatan dan penebusan dosa.

 

 

4. Natal Menjadikan yang Hina Mendapat Tempat Mulia; Ia mengasihi Orang Berdosa

Perkara yang dahsyat dikerjakan oleh Tuhan Yesus adalah Ia bersedia melaksanakan misi yang dipercayakan Bapa kepada-Nya. Dapatkah Tuhan Yesus membatalkan misi Bapa? Jawabannya adalah bisa.

Sebab sewaktu di Taman Getsemani, Tuhan Yesus bergumul dengan berat agar sekiranya Ia tidak mengalami penderitaan di atas kayu salib, namun di akhir pergumulan dengan rasa sesak yang menyakitkan, Tuhan Yesus berkata, “Biar kehendak Bapa yang jadi”.

Baca juga: 7 Hal tentang Kisah Santa Klaus yang perlu Anda Ketahui

Penundukan dan ketaatan ini bukan suatu sandirawa! Tuhan Yesus benar-benar merasakan penderitaan yang berat dan memilih taat. Ini adalah bukti riil di mana sebenarnya Tuhan Yesus bisa memilih tidak taat, menolak, atau membatalkan misi Bapa, namun Ia tunduk dan taat pada kehendak Bapa.

Ketaatan Kristus ini telah dibuktikan sejak awal, di mana Ia menanggalkan ke-Allahan-nya dan jadi Anak Manusia. Bahkan, Ia memilih lahir di kandang domba yang hina. Sesungguhnya agar semua orang berkesempatan memperoleh “kekayaan Kristus”. Yang miskin menjadi kaya.

Yesaya 53:3-9 menyiratkan pengorbanan Kristus yang menggantikan kita sebagai manusia berdosa, hina, dan seharusnya di hukum:

Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.

Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya.

Artinya manusia yang hina, miskin, tercela, dan layak dihukum, menerima anugerah Kristus dan mendapat tempat bersama Kristus di kekekalan dan menikmati kekayaan dan kemuliaan Allah di sorga kelak.

Baca juga: 12 TOKOH KELAHIRAN KRISTUS, DI ANTARANYA ADA RAJA KEJAM…

Bahkan, para gembala yang mewakili kita orang berdosa, mendapat tempat kehormatan melihat bayi manusia dan menyembah Dia. Bisa dibayangkan bila Tuhan Yesus lahir di dunia bukan di tempat terhina, pasti tidak ada satu pun orang yang dilayakkan menghampiri takhta kemuliaan Allah yang kudus, mulia, dan agung.

Karena itu, dampak natal yang nyata bagi dunia adalah Ia menjadikan manusia yang hina, yang percaya kepada-Nya, mendapat tempat yang mulia bersama Dia. Kristus mengasihi orang berdosa dengan memilih lahir di tempat yang hina dan mati di atas kayu salib, agar semua orang berkesempatan mendapat tempat mulia di kekekalan.

 

 

5. Dampak Natal Membawa Pemisahan bagi Orang Percaya dengan Dunia

Mengikut Tuhan bukanlah hal yang mudah. Seseorang harus menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Tuhan Yesus. Sama seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus yang rela menyangkal diri, memikul salib, dan tunduk atau taat kepada Bapa, kita pun seharusnya mengikut jejak Kristus.

Seseorang yang radikal atau mengikut Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh, ia harus benar-benar menjadi pribadi yang tidak cinta dunia. Ia tidak lagi berharap dunia membahagiakannya, melainkan hanya Tuhan saja fokusnya dan ia memperkarakan diri di hadapan Tuhan.

Baca juga: 10 Alasan Mengapa Orang Kristen Merayakan Natal

Dalam Matius 10:34-42 dijelaskan mengenai pemisahan dengan dunia, “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya,

dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.

Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.”

Tuhan Yesus datang bukan membawa damai, melainkan pedang. Kata pedang di sini dalam teks aslinya adalah μάχαιραν (makhairan) yang menunjuk kepada gambaran dari peperangan atau keadaan yang tidak nyaman.

Pemisahan dengan dunia di sini adalah orang Kristen rela melepaskan segala sesuatu demi Kristus dan berusaha untuk hidup berkenan di hadapan Tuhan.

Tentu, ia juga harus membawa keluarganya agar hidup takut akan Tuhan. Dan tetap mengasihi Tuhan dan tidak cinta dunia meski persoalan datang silih berganti. Puncaknya, ia terus berusaha bertumbuh hingga mengalami kedewasaan rohani. Baginya, persoalan ada untuk membuat ia memperbaiki diri dan memiliki karakter Kristus.

Keseriusan atau tingkat kedewasaan rohani seseorang diukur dari sejauh mana ia berkarakter Kristus bukan sejauh mana ia diberkati secara jasmani. Mujizat bukan lagi kebutuhannya, melainkan ia lebih memikirkan apakah ia berkenan di hadapan Tuhan atau tidak.

Baca juga: 7 Prinsip Menjadi Berkat bagi Sesama Melalui Segala Aspek

Fokusnya adalah ia selalu berusaha agar berkarakter Kristus dan berkenan di hadapan Bapa. Dengan sikapnya yang berusaha untuk hidup kudus, berkarakter Kristus, penuh kasih, dan mengutamakan perkara sorgawi, maka akan terlihat perbedaan jelas atas hidup orang percaya dan orang dunia (yang tidak hidup takut akan Tuhan).

Tentu, sikap teguh mengikut Tuhan ini, di mulai dari kisah natal, di mana Yesus menanggalkan ke-Allahan-Nya da menjadi Anak Manusia. Kelahiran Kristus bukan saja membuat seseorang yang hina menjadi layak di hadapan Tuhan, juga membuat perbedaan jelas atau pemisahan yang nyata dengan orang di luar Kristus, melalui cara hidup.

Inilah dampak natal yang nyata, di mana orang yang sungguh-sungguh percaya Yesus, ia rela melepaskan segalanya dan terpisah dengan dunia (cara hidup yang berbeda). Prinsipnya seperti Paulus, “Hidup adalah Kristus, Mati adalah keuntungan.”

Baca selanjutnya: Klik DI SINI atau klik NEXT di bawah ini untuk melanjutkan ke isi artikel berikutnya.

Tanggapan Anda:

error: