GENERASI PENYEMBAH: 3 CARA MENJADI PENYEMBAH BAPA
III. Generasi Penyembah: Milikilah Ibadah yang Benar (Roma 12:1-2)
Sebagai generasi penyembah, cara menjadi penyembah yang benar ialah memiliki ideologi atau pengenalan yang benar akan Tuhan, memiliki iman yang benar, dan yang ketiga ini ialah memiliki ibadah yang benar. Jika memiliki ideologi dan iman yang dianggap benar, tetapi kehidupannya tidak tercermin dalam gaya hidupnya sebagai wujud ibadah yang benar, maka pengenalannya itu, salah tentang Tuhan.
Memiliki ideologi dan iman yang benar tidaklah cukup, jika tidak dibarengi dengan ibadah yang benar. Berawal dari pengenalan sehingga menimbulkan iman. Semakin mengenal semakin memiliki iman yang teguh, tetapi juga terlihat dari perbuatan kesehariannya, yakni ibadah yang benar. Seperti apa ibadah yang benar itu?
Cara yang ketiga agar kita sebagai geenerasi penyembah menjadi penyembah yang benar adalah memiliki ibadah yang benar.
Ibadah yang benar terlahir dari ideologi dan iman yang benar. Ibadah yang benar bukan hanya sekedar kita setia beribadah bahkan hampir setiap hari beribadah, melainkan mempersembahkan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan dengan menjaga kekudusan dan hidup memuliakan Tuhan.
Baca juga: DOA YANG BENAR, PENTING UNTUK DIKETAHUI
Penulis sering melihat banyak orang Kristen, sikap mereka “sok kudus” dan kelihatan setia beribadah ke gereja bahkan setiap harinya, tetapi ternyata kehidupan mereka sehari-hari tidak mencerminkan ibadah yang benar yaitu suka mengucapkan kata kotor dan kutuk, berzinah, dan sebagainya.
Hal ini dikarenakan kebanyakan orang percaya tidak memahami seperti apakah ibadah yang benar itu. Definisi ibadah yang benar dapat dilihat dalam tulisan Paulus di dalam surat Roma 12:1.
Definisi Ibadah
Paulus mendefinisikan “ibadah yang benar” dengan istilah “ibadah yang sejati.”
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”
Dalam teks ini, Paulus mendorong dan menasihati jemaat di Roma agar memiliki ibadah yang sejati dengan cara mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah.
Aplikasi mempersembahkan tubuh dapat dilihat pada perkataan Paulus selanjutnya, yaitu jangan menjadi serupa dengan dunia ini, memiliki pola pikir alkitabiah agar dapat membedakan hal yang baik, dan berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Ibadah Adalah Mempersembahkan Tubuh
Kata “mempersembahkan tubuhmu” dalam bahasa Yunani parastesai ta somata, artinya “menghadiahkan, memberikan tubuh.” Jadi, nasehat Paulus untuk mempersembahkan bukan mengandung unsur wajib, harus dan atau karena terpaksa.
Ya, karena kita orang Kristen jadi harus, wajib, atau terpaksalah mempersembahkan tubuh. Bukan seperti itu, melainkan adalah kita memberikan dengan rela sebagai hadiah atau menghadiahkan tubuh kita. Definisi kata “menghadiahkan” dalam Kamus Besar Indonesia, artinya “memberikan sesuatu sebagai hadiah, menganugerahkan”.
Jika kita memberikan hadiah kepada seseorang yang kita cintai, tentunya kita pasti akan memberikan hadiah yang bagus dan yang terbaik. Maka, yang dimaksud mempersembahkan tubuh adalah menghadiahkan tubuh kita kepada Tuhan. Definisi Ibadah yang benar adalah menghadiahkan (memberikan yang terbaik) tubuh kepada Allah.
Menghadiahkan berarti tidak mengandung unsur wajib, harus, atau terpaksa melainkan didasarkan karena kerelaan untuk memberikan tubuh kita bagi Tuhan. Hal penting yang perlu kita ketahui adalah jika kita mau mempersembahkan tubuh kita bukan berdasarkan kerelaan, tetapi oleh keterpaksaan, maka kita berada atau hidup dalam hukum Taurat bukan di dalam Injil.
Perbedaan Hukum Taurat dan Injil
Perbedaan antara hukum Taurat dan Injil sangatlah jelas. Hukum Taurat bukan hanya 10 Hukum yang kita kenal dalam Keluaran 20:1-17, itu hanya sebagian saja. Hukum Taurat seluruhnya berdasarkan Pentateukh atau lima Kitab Musa, yang dijabarkan para Rabbi dan menjadi aturan orang Israel adalah berjumlah 613 Mitzvot atau perintah.
Hukum Taurat dibagi dalam dua bagian yaitu perintah positif yang berjumlah 248 perintah “memerlukan” pelaksanaan suatu tindakan dan dianggap membawa pelakunya lebih dekat kepada Allah, dan perintah negatif berjumlah 365 perintah “melarang” tindakan tertentu dan pelanggarannya akan menciptakan jarak dari Allah (wikipedia.org/halakha). Totalnya adalah 613 Perintah Tuhan.
Hukum Taurat merupakan aturan-aturan atau norma-norma yang harus diperhatikan, dijaga dan diterapkan oleh bangsa Israel. Konsep keselamatan dalam hukum Taurat adalah keselamatan diperoleh atas usaha sendiri dalam melakukan segala perintah Allah (Gal. 3:12), sedangkan Injil, keselamatan diperoleh atas “anugerah atau pemberian secara cuma-cuma” melalui percaya kepada Kristus.
Jika umat Allah gagal menaati hukum Taurat, maka akan memperoleh kutuk hukum Taurat (Ul. 28:15-46). Namun, Alkitab menegaskan bahwa hukum Taurat telah digenapi oleh Kristus Yesus Tuhan melalui pengorbanan-Nya di atas kayu Salib, sehingga manusia terlepas dari kutuk hukum Taurat (Gal. 3:13).
Injil atau hukum Kasih mendekatkan manusia kepada Allah melalui Kristus, manusia rohnya dapat berhubungan dengan Tuhan, dan Roh Allah pun berdiam serta menyertai hidupnya, sehingga ia dimampukan oleh Roh Kudus untuk melakukan kehendak atau perintah Allah.
Jadi, hukum Taurat sebagai Perjanjian Lama telah digenapi dan diberikan Injil (Perjanjian Baru: perjanjian antara Allah dengan manusia di dalam Kristus), yaitu keselamatan hanya oleh anugerah melalui Kristus, bukan lagi hasil usaha seseorang karena menaati hukum Taurat.
Oleh sebab itu, seseorang yang telah meresponi anugerah keselamatan melalui iman dan menjadi pengikut Kristus, seharusnya mempersembahkan tubuhnya berdasarkan kerelaan, bukan karena keterpaksaan, atau dorongan motivasi tertentu untuk kepentingannya sendiri.
Jika seseorang mencari Tuhan karena terpaksa atau memiliki motivasi menyimpang, maka ia tidak akan mengalami pertumbuhan rohani. Hal yang mendasar untuk dilakukan oleh orang percaya dalam mempertahankan imannya dan agar mengalami pertumbuhan iman adalah mempersembahkan tubuhnya berdasarkan kerelaan atas dasar mengasihi Tuhan dengan segenap hati.
Praktek Ibadah yang Benar
Kata “persembahan yang hidup,” Dalam bahasa asli thusian sōsan, artinya sacrifice to live, yaitu “menjadi korban yang hidup”. Alkitab terjemahan Lama juga menerjemahkan “menjadi korban yang hidup.” Kata “yang kudus,’ dalam terjemahan BIS, yaitu “yang khusus untuk Allah,” sedangkan, dalam bahasa Yunani, yaitu agian artinya kudus.
Selanjutnya, kata “yang berkenan kepada Allah” dalam terjemahan BIS yang sama juga dengan nats asli (bahasa Yunani) euareston to Theo, yaitu “yang menyenangkan hati-Nya.” Jadi, Paulus menasihati orang percaya untuk mempersembahkan (menghadiahkan) tubuh menjadi korban yang hidup, kudus, dan yang menyenangkan hati-Nya.
Makna korban yang hidup menurut penulis adalah seperti halnya seekor domba atau kambing yang dibawa ke tempat pengorbanan untuk disembelih tanpa memberontak. Maksudnya, kita bersedia melayani dan mengalami apapun yang Tuhan kehendaki (baik kesulitan, penderitaan, kedukaan, maupun kesusahan) tanpa mengerutu ataupun protes terhadap Tuhan.
Baca juga: MENJADI PENYEMBAH YANG BENAR
Ketaatan terhadap kehendak atau perintah Tuhan, merupakan bukti seorang pengikut Kristus menjadi korban yang hidup.
Selain kita menjadi korban yang hidup (membiarkan kehendak Tuhan yang jadi dalam hidup kita), kita pun harus hidup di dalam kekudusan (kita tidak mencemarkan tubuh kita untuk perbuatan dosa atau keinginan daging), dan juga kita seharusnya hidup menyenangkan hati Tuhan.
Jika kita ingin menyenangkan orang tua atau orang yang kita kasihi, tentunya kita akan melakukan hal-hal yang dapat menyenangkan hatinya, demikian juga dengan menyenangkan hati Tuhan. Jadi, pengertian ibadah yang benar disini adalah kita dengan penuh kerelaan menghadiahkan tubuh kita menjadi korban yang hidup, hidup dalam kekudusan, dan selalu hidup menyenangkan hati Tuhan.
Bukti seseorang memiliki ibadah yang benar terlihat dari gaya hidupnya. Apapun yang ia kerjakan, baik dalam bisnis atau pekerjaan, studi, keluarga, pergaulan, atau bahkan dalam kehidupan sehari-hari, ia selalu merealisasikan cara hidup yang benar di hadapan Tuhan.
Ibadah adalah Gaya Hidup Generasi Penyembah Tuhan
Ibadah yang benar bukan menunjuk pada rutinitas fisik dalam beribadah kepada Tuhan, tetapi lebih kepada cara hidup yang benar di hadapan Tuhan. Orang Kristen haruslah memiliki cara hidup yang benar sebagaimana dikatakan oleh Paulus dalam Kolose 3:5-9.
“Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka]. Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya. Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai,karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya.”
Dan, kita seharusnya mengenakan manusia yang baru sebagaimana dikatakan oleh Paulus dalam Efesus 4:22-24.
“Yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.”
Jika kita memperhatikan kerohanian kita dalam ibadah yang benar, yaitu memiliki cara hidup yang benar dengan memberikan tubuh kita menjadi korban yang hidup, kudus, dan menyenangkan hati Tuhan, maka kita termasuk generasi penyembah yang benar. Dengan kata lain, memiliki ibadah yang benar adalah pola hidup penyembah yang benar.
Cara menerapkan gaya hidup ibadah yang benar
Sebenarnya beribadah bukanlah pada hari Minggu saja dan seharusnya ibadah Minggu bukan sebagai rutinitas mingguan saja dalam beribadah, melainkan tempat kita belajar Alkitab, mengenal Tuhan melalui pemberitaan Firman, dan tempat kita dibekali oleh Firman Tuhan agar iman kita semakin diteguhkan.
Namun, Ibadah kita yang sejati atau yang sesungguhnya adalah di mana pun kita berada, kita menjunjung tinggi Firman Tuhan atau dengan penuh kerelaan mengasihi Tuhan dengan segenap hati, bukan dengan paksaan, terpaksa atau motivasi tertentu seperti karena hanya ingin diberkati. Ibadah yang benar dari seseorang terlihat melalui penjelasan berikut.
Pertama, menjadi korban yang hidup. Ibadah yang benar ialah mengadiahkan hidup atau tubuh kita menjadi korban yang hidup. seperti dijelaskan seperti seekor domba atau kambing yang di bawah dalam pembantaian tetapi tidak memberontak.
Jika kita mau menerima apa yang terjadi, termasuk bangkrut, sakit, atau berbagai persoalan lainnya tetapi kita tetap bersyukur, tidak mempersalahkan Tuhan, bahkan tetap bertekun dalam iman, maka kita menjadi korban yang hidup bagi-Nya. Tuhan memperhatikan orang-orang yang bersedia tinggal dalam kehendak Tuhan, meski apapun yang terjadi.
Makna menjadi korban yang hidup ialah, kita mau menerima segala sesuatu yang terjadi dan terus bersyukur, kita menyangkal diri dan memprioritaskan perkara-perkara sorgawi, kita tunduk dan taat kepada perintah Tuhan, meski harus kehilangan segala-galanya.
Kedua, kudus. Allah itu kudus, maka sebagai milik kepunyaan-Nya kita harus menjunjung tinggi kekudusan-Nya dengan cara, diantaranya kita hidup dalam kekudusan. Hal ini penting sebab merupakan pola ibadah yang benar menurut Alkitab. Jika seseorang terus hidup dalam kekudusan, atau setiap harinya menjauhi dosa dan bertobat, maka itulah ibadah yang benar.
Ketiga, Ibadah yang benar bukan hanya kita menghadiahkan hdiup kita bagi Tuhan melalui menjadi korban yang hidup dan hidup dalam kekudusan, melainkan juga kita hidup menyenangkan Tuhan melalui kehidupan kita sehari-hari, baik dalam hal berpikir, berkata-kata, maupun dalam hal kita bertindak. Kristus hidup di dalam kita.
Tuhan menanti kita untuk menerapkan ibadah yang benar di dalam hidup kita. Marilah kita mempraktekkan ibadah yang benar dalam berbagai hal dan seluruh aspek kehidupan kita. Jadilah generasi penyembah yang benar yang memiliki gaya hidup ibadah yang benar.
Kesimpulan
Berdasarkan Yohanes 4:24, penyembah yang benar ialah menyembah Bapa di dalam roh (pneumati) dan kebenaran (aliteia), yang artinya menyembah Tuhan dengan kesungguhan hati dan merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Tuhan, juga menjadi pelaku Firman Tuhan atau terus berusaha dan belajar melakukan Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Maksudnya roh atau hati kita selalu sungguh-sungguh merendahkan diri di hadapan Tuhan, bukan setengah hati dan kita juga hidup mau melakukan atau menjadi pelaku Firman Tuhan setiap hari dan terus berlanjut hingga Tuhan Yesus datang. Jadi bukan hal mudah menjadi penyembah yang benar, tetapi semua orang yang takut akan Tuhan seharusnya menjadi penyembah yang benar.
Kita dibentuk dan diproses melalui berbagai cara termasuk Tuhan izinkan persoalan hidup, sehingga kita sebagai generasi penyembah, terus menjadi penyembah Bapa atau penyembah yang benar. Tentu ada kiat atau ada cara yang jitu yang perlu kita lakukan sehingga kita menjadi penyembah yang benar.
Untuk menjadi penyembah yang benar, maka cara pertama yang seharusnya kita Lakukan adalah dengan memiliki ideologi atau pengenalan akan Allah dengan benar. Tanpa pengenalan yang benar mustahil kita dapat menjadi penyembah sejati.
Pengenalan atau ideologi yang benar dapat kita miliki melalui mendengarkan pemberitaan Firman Tuhan dan terus belajar Alkitab secara teratur, rutin, dan penuh ketekunan, sehingga kita semakin mengenal dan memiliki pengetahuan yang lengkap dan benar akan Alkitab.
Cara kedua ialah memiliki iman yang benar. Berbicara tentang iman bukan sejauh mana kita mengerti akan iman, tetapi sejauh mana kita memiliki kualitas iman itu sendiri. Sia-sia jika kita hanya memiliki iman sekadar pengetahuan saja tetapi tanpa memiliki kualitas iman itu sendiri.
Kualitas iman atau iman yang benar adalah iman yang terus bertumbuh karena belajar Alkitab atau melalui ideologi yang benar, menjadi besar atau semakin teguh dan kuat, sehingga menjadi orang Kristen yang militan, dan terus berbuah di dalam Kristus, baik buah pelayanan maupun buah Roh. Jadi iman yang benar ialah iman yang bertumbuh, iman yang besar, dan iman yang berbuah.
Cara ketiga menjadi penyembah yang benar ialah memiliki ibadah yang benar. Ibadah yang benar ini, terlahir dari ideologi dan iman yang benar. Bila seseorang memiliki ideologi yang benar dan iman yang benar, maka akan terefleksi melalui ibadah yang benar. Dengan kata lain, Ibadah yang benar adalah dampak dari pengenalan dan iman yang benar.
Ibadah yang benar atau sejati itu terlihat dari gaya hidup seseorang. Jika seseorang hidup takut akan Tuhan maka tentu dibarengi dengan gaya hidup alkitabiah. Itulah ibadah yang benar. Bukan soal rutinitas beribadah tetapi soal pola atau gaya hidup. Dengan kata lain, ibadah itu bukan di hari Minggu saja, tetapi keseharian kita melalui hidup benar, kudus, dan menyenangkan hati Tuhan.
Implikasinya, ibadah yang benar itu berarti kita menghadiahkan tubuh menjadi korban yang hidup, kudus, dan yang menyenangkan hati Allah. Pekerjaan, sekolah, keluarga, lingkungan, maupun pergaulan merupakan tempat kita memperlihatkan kualitas ibadah kita.
Karena itu, marilah kita datang pada Tuhan dengan rela menghadiahkan tubuh kita menjadi korban yang hidup, kudus, dan menyenangkan hati Tuhan, di mana saja dan kapan saja.
Jadilah pribadi yang menyembah Tuhan dengan benar melalui belajar mengenal Tuhan, beriman teguh, dan bergaya hidup alkitabiah. Penyembah sejati adalah orang yang mau belajar mengenal Tuhan melalui pembelajaran Alkitab yang intensif, mau bertumbuh dan berbuah, dan hidup menyenangkan Tuhan melalui hidup kudus dan melakukan apa yang dikehendaki Tuhan.
(Baca Juga: 7 HAL TENTANG SOSOK PENUNGGANG KUDA PUTIH DALAM KITAB WAHYU YANG PERLU ANDA KETAHUI)
Pastikan bahwa kita adalah generasi penyembah Tuhan yang benar, bukan hanya saat ini saja, melainkan sampai kita dipanggilnya berpulang ke rumah Bapa.
(Dilarang meng-copy dan publish ulang tulisan ini, tanpa seijin penulis)
Lihat juga:
- Hidup yang Berserah Kepada Tuhan
- Melihat dengan Mata Rohani, Fokus Iman yang Benar
- Melibatkan Tuhan dalam Segala Hal
- Tampil Inner Beauty, Cantik Batiniah
- Menggunakan Kesempatan dengan Benar
- Ketaatan Menghancurkan Tembok Penghalang Iman
- Mencintai Walau Harus Terluka, Ini Bukti Kasih
Jika Anda merasa diberkati dengan artikel berjudul GENERASI PENYEMBAH: 3 CARA MENJADI PENYEMBAH BAPA ini, bagikanlah artikel ini kepada sahabat, keluarga, dan rekan-rekan Anda.
Jangan lupa, Like (Sukai) Fanspage Facebook Fokus Hidup yang ada di situs ini atau klik DI SINI untuk mendapatkan info-info terbaru dari fokushidup.com.
Mari bergabung juga dengan grup Facebook Fokus Hidup dengan cara klik DI SINI. Silahkan tinggalkan komentar Anda, bila ingin menanggapi, bertanya, ataupun memberikan saran dan kritik.
Jangan berhenti di tangan Anda, tetapi bagikanlah artikel ini, melalui sosial media (Facebook, Twitter, Google+, dll.) Anda. Sebab dengan demikian, Anda juga sudah berpartisipasi dalam memperluas Kerajaan Allah. Selain itu, teruslah bertekun dalam Kristus. Tuhan Yesus Memberkati …!!!


bagus…