Hubungi Kami"... jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, ..." (Rm. 14:8)

Kemarahan Bergejolak? Ini Pentingnya Menguasai Diri…

Kemarahan Bergejolak
Via image: http://getyourimage.club

Fokus Hidup“Apa akibatnya bila dikuasai kemarahan yang bergejolak? Mengapa kita perlu menguasai diri? Bagaimana agar dapat me-manage emosi sehingga nama Tuhan dipermuliakan? Simak renungan yang berjudul Kemarahan Bergejolak? Ini Pentingnya Menguasai Diri... ini.

 

Bacaan Nats: Efesus 4:26-27; Amsal 29:11
Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari 
terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis. 
(Efesus 4:26-27)

Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya 
meredakannya. (Amsal 29:11)

 

 

Sebagian orang sering dikuasai oleh kemarahan bergejolak yang sungguh tak terbendung. Dan akhir dari emosi yang tak terkontrol itu, tentu adalah sesuatu yang sangat merugikan banyak pihak, termasuk keluarga dan dirinya sendiri.

Bisa jadi berujung kepada pertikaian dan pembunuhan, hingga akhirnya terkurung dalam penjara dan penyesalan seumur hidup.

Bila kita mengingat beberapa kejadian naas karena kemarahan bergejolak, pastinya kita akan merasa miris, sungguh ironis, dan menyayangkan atas terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut. Di antaranya, ada peristiwa penembakan yang terjadi pada 3 November 2015.

Baca juga: Fokus Hidup Orang Percaya; Bangunlah Kerohanian Anda…

Berbagai media online saat itu, memberitakannya. Seorang aparat negara yang seharusnya mengayomi dan melindungi masyarakat, tetapi justru menembak mati seorang warga. Ia menyalahgunakan senjatanya yang seharusnya diperuntukan untuk membela negara atau menjalankan tugas negara.

Aksi tembak yang dilakukan seorang prajurit TNI ini diawali dengan kejadian saling serempet antara korban dengan dirinya yang mengendarai mobil. Karena emosi, ia meletuskan senjata apinya hingga menewaskan sang pengemudi ojek. Tentunya, perbuatan ini diluar kendali akal sehatnya yang ditunggangi oleh emosi.

Dari peristiwa ini, kita dapat menyimpulkan bahwa emosi yang tidak terkendali dapat membahayakan orang lain.

Menurut Para ahli ilmu jiwa, kemarahan seseorang tidak akan hilang sampai ia melampiaskan amarahnya pada sasaran apa saja. Sesaat, seseorang terlupa dengan status dan identitasnya, yang ada hanyalah luapan kemarahan yang sulit diatasi, sehingga sesuatu yang tidak diinginkan dapat terjadi, seperti halnya membunuh.

Ketika seseorang dikuasai kemarahan yang tidak terkontrol, ia akan seperti “kesetanan”, sehingga benda apa saja yang didekatnya akan digunakannya untuk melukai orang yang bertengkar atau berselisih paham dengannya.

Karena itu, kemarahan perlu diatasi agar tidak berdampak kepada pertengkaran (Ams 15:18), pertikaian, bahkan pembunuhan.

Bagaimana seseorang dapat mengatasi emosinya? Ada yang berpendapat bahwa kemarahan harus dilampiaskan sehingga tidak berlarut-larut. Cara melampiaskannya, seperti meninju tembok atau berteriak sekencang-kencangnya di atas bukit, dsb. Apakah ini solusi yang tepat dalam mengatasi kemarahan?

Baca juga: Hoax Versus Realita! Milikilah Integritas Iman…

Bisa saja diterapkan sekadar menghilangkan emosi sesaat, tetapi penulis Amsal memberikan perbandingan mengatasi emosi antara orang bebal dan orang yang bijak.

Orang bebal melampiaskan kemarahannya, sedangkan orang bijak akan meredakan amarahnya. Jadi, jelas Alkitab menganjurkan kemarahan harus diredakan. Artinya, kita harus menguasai diri begitu rupa, agar kemarahan yang besar menjadi surut dan berpikir tenang.

Kemarahan itu diibaratkan seperti api. Jika kita membiarkannya menyala, maka api itu akan membakar benda-benda apa saja yang ada di sekitar kita. Bahkan, ia akan terus menyala, membakar, dan sulit dimatikan.

Seperti kebakaran hutan yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia, bisa dibayangkan betapa sulitnya pemerintah dan para relawan yang berusaha mematikan api.

Sebagaimana api perlu diredakan hingga berangsur-angsur mati, demikian juga kemarahan. Alkitab tidak melarang kita untuk marah, tetapi jangan menjadi pemarah. Tuhan Yesus juga pernah marah dan mengekspresikan kemarahan (Mat 21:12). tetapi Ia bukan pemarah.

Karena itu, ketika kita menjadi marah, atasilah kemarahan kita secepatnya dengan berdoa di dalam hati dan milikilah kesabaran. Sebelum gejolak kemarahan menguasai Anda, mulailah belajar untuk mengatur emosi Anda, supaya kelak menjadi pribadi yang penyabar dan dapat menguasai diri.

Baca juga: Pertolongan Tuhan Itu Nyata? Ini Seruan Kita Seharusnya…

Ini yang seharusnya kita lakukan! Apalagi kita sebagai orang percaya, tentu akan mencoreng wajah kekristenan itu sendiri.

Bagaimana kita bisa menguasai kemarahan bergejolak di hati kita? Belajarlah kepada Tuhan Yesus, sebab Ia telah memberikan teladan yang nyata bagi kita. Penderitaan-Nya di kayu salib bukan tidak membuatnya tidak bisa marah dan membenci.

Ia bahkan bisa saja mengabaikan kehendak Bapa untuk tidak mengalami penderitaan yang sangat berat ini. Tuhan Yesus memiliki kehendak untuk memilih taat atau tidak, sebagaimana sewaktu peristiwa di Taman Getsemani, Ia berseru kepada Bapa untuk tidak mengalami penderitaan ini, tetapi Ia pun berkata, biar kehendak Bapa yang jadi, bukan kehendak-Nya.

Justru sebaliknya, Tuhan Yesus begitu rupa menguasai diri dengan tidak meluap amarah dan tidak membatalkan rencana Bapa atas diri-Nya, yakni menjadi Sang Pendamai, Tuhan, Raja, dan Pemilik seluruh kehidupan manusia dan jagad raya ini. Ia tidak menggunakan otoritas-Nya sebagai Tuhan. Bahkan, Ia pun mengampuni.

Baca juga: Sang Martir Tuhan! Berjuanglah Hingga Akhir Hidup…

Di sini, Tuhan Yesus memberikan teladan yang riil kepada kita untuk menguasai diri dengan tidak dikuasai kemarahan bergejolak dan memiliki penundukan diri sepenuh kepada kehendak-Nya.

Oleh sebab itu, sejak dini milikilah penguasaan diri sebelum kerugian besar menimpa kita atau membawa kita kepada kejahatan karena kemarahan yang bergejolak (Mzm. 37:8) dan lakukanlah apa yang Bapa kehendaki.

Dengan demikian, kita bukan saja mampu hidup berdamai dengan orang lain, juga nama Tuhan dipermuliakan atas kita. Inilah pentingnya kita menguasai diri! Now, atasilah kemarahan dengan penguasaan diri yang tinggi, sebelum kemarahan itu menghancurkan kita.

 

DOA
Bapa di sorga, berikanku hati yang sabar dalam menghadapi segala sesuatu. Mampukan aku untuk selalu dapat meredakan amarah. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

(Tulisan ini adalah tulisan asli penulis yang sebagian isi sudah dimuat dalam renungan harian Manna Sorgawi)
(Dilarang meng-copy dan publish ulang tulisan ini, tanpa seijin penulis)

Jika Anda merasa diberkati dengan artikel “Kemarahan Bergejolak? Ini Pentingnya Menguasai Diri...” ini, bagikanlah ke sosmed (Facebook, Twitter, Linkedin, dll.) Anda.

Like (Sukai) juga Fanspage Facebook Fokus Hidup yang ada di situs ini atau klik DI SINI untuk mendapatkan info-info terbaru dari fokushidup.com.

Dan bergabunglah juga dengan grup Facebook Fokus Hidup dengan cara klik DI SINI.

Silahkan tinggalkan komentar Anda di bawah artikel ini untuk menanggapi, bertanya, ataupun memberikan saran dan kritik.

 

Kunjungi juga beberapa artikel di bawah ini yang menguatkan iman Saudara!

Tinggalkan komentar Anda

Shalom...
Mau curhat? Atau mau bertanya?
Powered by
error: