Hubungi Kami"... jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, ..." (Rm. 14:8)

SURAT TITUS: PENTINGNYA MENGETAHUI TEOLOGI PAULUS DALAM SURAT TITUS

TEOLOGI PAULUS DALAM SURAT TITUS

Pembahasan dalam bab ini, yakni menjelaskan tentang Teologi Paulus secara umum sebagai bentuk pembelajaran yang komprehensif. Masalah yang dihadapi dalam mencari tahu pandangan dari Teologi Paulus dalam Surat ini ialah sedikitnya pembicaraan Paulus yang dibahas mengenai hal tersebut, sebab Surat ini memuat pelayanan praktis dalam bergereja sebagai pemimpin dan jemaat.

Meski demikian, penulis akan berupaya menjelaskan Teologi Paulus berdasarkan nats yang ditinjau dari sudut pandang Teologi Paulus. Bab ini membahas Teologi Paulus mengenai Eskatologi, Eklesiologi, Kristologi, kehidupan praktis, dan Soteriologi.

 

A. Teologi Paulus Mengenai Eskatologi (1:1-3)

Eskatologi berasal dari kata dasar ἔσχατος (eskhatos), akhir, dan λογία – (logia) atau ilmu, pengetahuan yang artinya ilmu atau pengetahuan tentang hal-hal akhir, hal-hal pamungkas, atau yang menyangkut realitas akhirat sebagai akhir kehidupan seperti kematian, kebangkitan, pengadilan terakhir serta kiamat sebagai akhir dunia. 1

Berdasarkan pengertian Eskatologi tersebut, maka tentu dalam bagian ini akan dibahas mengenai pandangan Paulus akan akhir zaman. Namun, dalam upaya menjelaskan Eskatologi, penulis menemukan bahwa Paulus tidak menyinggung banyak hal tentang Eskatologi secara detail dan jelas.

Baca juga: 7 HAL TENTANG SOSOK PENUNGGANG KUDA PUTIH DALAM KITAB WAHYU YANG PERLU ANDA KETAHUI

Nats 1:1-3, ini tidak sepenuhnya menjelaskan tentang Eskatologi. Titus 1:1 ini berisi tentang pendahuluan atau pembuka Surat, yakni sang penulis atau pengirim Surat ini jelas adalah Paulus, di mana disebutkan “Dari Paulus, Hamba Allah dan rasul Yesus Kristus…”

Tujuan dari Surat ini disampaikan dalam ayat satu ini ialah sebagaimana dikatakan Paulus, yakni untuk memelihara iman orang percaya dan memberikan pengetahuan akan kebenaran.

Di ayat pertama ini merupakan pendahuluan tetapi kalimat berikut Paulus yang tertulis dalam ayat dua menyinggung mengenai Eskatologi yang hanya sebatas sebutan, “pengharapan hidup yang kekal”.

Kaitannya ayat satu dan dua ini, bahwa tujuan surat ini sebagai wujud untuk memelihara iman dan pengetahuan jemaat sesuai dengan pengharapan akan hidup yang kekal.

“Pengharapan akan hidup yang kekal” ini bisa disebut terkait dengan Eskatologi. Memang pemahaman Paulus mengenai Eskatologi di sini tidak menjelaskan koronologis, ciri-ciri, maupun konsep menyeluruh mengenai akhir zaman, tetapi perkataan hidup kekal menunjuk kepada wujud dari akhir zaman atau Eskatologi itu adalah hidup kekal.

Hidup yang kekal bukan hanya semata-mata menunjuk kepada tempat di sorga namun mengacu kepada pemahaman yang lebih luas yaitu suatu keadaan yang tidak akan pernah binasa. 2

Maksud dan tujuan Paulus dalam menuliskan Surat Titus ini sebagai upaya untuk membimbing umat Tuhan agar memiliki pengetahuan dan pengharapan akan hidup kekal itu sendiri atau Eskatologi. Menariknya, di sini Paulus menjelaskan hidup kekal itu sebelum permulaan zaman atau sebelum kehidupan di dunia ini ada, sudah dijanjikan Allah.

Pada ayat 3, hidup kekal yang sudah dijanjikan Tuhan itu sebelum permulaan zaman sesuai dengan waktunya Tuhan atau kehendak Tuhan, telah menyatakan firmanNya melalui pemberitaan Injil, yang dipercayakan kepada Paulus.

Nats lain yang disinggung dalam Surat Titus terkait dengan Eskatologi, juga terdapat dalam Titus 2:13 yang menjelaskan bahwa kedatangan-Nya yang kedua kali itu akan kelihatan dan digenapi yaitu Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat umat manusia.

Alkitab Edisi Studi menjelaskan, “Penyataan kemuliaan … Juruselamat kita Yesus Kristus: dalam surat-suratnya, Paulus sering berbicara tentang hari kedatangan Yesus kembali ke dunia (1 Kor. 15:20-28; Flp. 1:10, 2:16, 3:20-21).” 3

 

B. Teologi Paulus Mengenai Eklesiologi (1:5-10)

Teologi Paulus yang selanjutnya, yang dibahas dalam bagian ini ialah Eklesiologi. Secara etimologis, Eklesiologi adalah:

“Eklesiologi berasal dari bahasa Yunani kuno ἐκκλησίᾱ (ekklesiā), dalam bahasa Latin ecclesia, artinya jemaat atau gereja dan akhiran λογία (logia) yang berarti perkataan, pengetahuan, atau logika. Dalam dunia Yunani – Romawi, ekklesia digunakan untuk merujuk suatu pertemuan sah, atau disebut badan kepengurusan.

Sejak awal pada zaman Pythagoras, kata ini mengandung makna lain yaitu komunitas dengan kepercayaan yang sama. Makna inilah yang dipakai dalam terjemahan bahasa Yunani untuk Alkitab Ibrani (disebut Septuaginta), dan kemudian digunakan pula oleh komunitas Kristen untuk merujuk pertemuan para orang percaya.” 4

Lebih lanjut, Eklesiologi diartikan sebagai “Persekutuan orang kudus (Rm. 1:7; 1 Kor. 1:2; Ef. 1:1), orang pilihan, terkasih, dan dipanggil.”5

Dari pengertian Eklesiologi inilah maka dapat ditemukan ada pembahasan tentang gereja dalam Surat Titus. Pembahasan Eklesiologi dalam Surat Titus ini mengenai menetapkan pemimpin gereja, syarat menjadi pemimpin gereja, menghadapi ajaran sesat dan pengajar sesat, dan sikap dalam penggembalaan.

Perlu diketahui bahwa “Beberapa kata baru diketahui muncul dalam surat-surat ini, contohnya kata ‘Presbyter’, ‘bishop (Episkopoi)’ dan ‘deacon (Diakonoi)’, sedangkan dua kata terakhir diketahui hanya pernah muncul sekali di surat Filipi.” 6

 

1. Menetapkan Kepemimpinan dalam Gereja (Titus 1:4-5)

Sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa Surat Paulus ini ditujukan kepada Titus. Hal ini terlihat dalam Titus 1:4, di mana Titus disebut sebagai anak rohani Paulus yang dpercayakan untuk melanjutkan pelayanan Paulus di jemaat setempat tersebut.

Menariknya adalah sebelum Titus dipercayakan oleh Paulus untuk menetapkan penatua-penatua, Paulus pun memberikan kepercayaan terhadap Titus untuk melakukan tanggung jawab tersebut.

Bentuk tanggung jawab yang diberikan Paulus kepada Titus dalam ayat 5 ialah mengatur apa yang masih perlu diatur dan menetapkan penatua-penatua. Dalam kaitan nats ini dengan Eklesiologi adalah adanya tugas seseorang yang dipercayakan untuk menetapkan, menunjuk, atau memilih para pemimpin gereja yang dalam hal ini disebut penatua.

Pengertian penatua adalah adalah sebuah jabatan gerejawi yang ada di sebuah gereja. 7 Kata Penatua sendiri berasal dari bahasa Yunani presbyteros yang berarti seorang yang dituakan, yang berpikir matang, sesepuh. 8.

 

2. Syarat Menjadi Penatua atau Penilik Jemaat (Titus 1:6-9)

Dalam Titus 1:6-9 ini, Paulus memaparkan beberapa syarat penting yang perlu diperhatikan oleh Titus dalam memilih tokoh atau seorang penatua. Tentu hal ini adalah standar khusus yang perlu diterapkan oleh gereja sebagai organisasi rohani untuk melaksanakan visi dan misi yang dari Tuhan.

Peranan seorang pemimpin sangat penting dan berdampak besar dalam perkembangan gereja dan pertumbuhan gereja. Adapun syarat-syaratnya akan dijelaskan di bawah ini.

a. Tidak bercacat (Titus 1:6)

Kata tak bercacat dalam bahasa Yunani ialah anegkletos artinya blameless, irreproachable, 9

artinya tak bercacat. King James Version menerjemahkan dengan kata blameless. Tak bercacat di sini berarti tidak ada kesalahan yang dilakukan sehingga ia layak diangkat menjadi penatua.

Titus 1:6 dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari diterjemahkan, “Seorang pemimpin jemaat hendaklah seorang yang tanpa cela; ia harus mempunyai hanya seorang istri; anak-anaknya harus sudah percaya kepada Kristus dan bukan sebagai anak berandal dan yang tidak bisa diatur.” 10

Jadi, tak bercacat yang dimaksud oleh Paulus di dalam ayat ini ialah memiliki seorang istri saja dan anak-anaknya adalah anak-anak yang hidupnya takut akan Tuhan, yakni mengasihi Tuhan, moralitas yang baik, dan taat kepada orang tua.

Dengan kata lain, untuk menjadi seorang penatua atau Titus memilih seorang penatua, maka harus berlatar belakang memiliki keluarga yang baik, harmonis, dan takut akan Tuhan.

b. Berintegritas (Titus 1:7)

Syarat selanjutnya yang disampaikan kepada Titus dalam mengangkat seorang penatua tidak hanya tak bercacat. Ada beberapa syarat lagi yang disampaikan oleh Paulus. Namun di sini juga Paulus tidak hanya membahas mengenai penatua, melainkan juga mereka sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat.

Tidak dijelaskan di sini bahwa penatua dan penilik jemaat memiliki kedudukkan yang berbeda atau sama dalam jabatan organisasi gereja. Bisa juga yang di maksud Paulus adalah penatua merupakan penilik jemaat atau memiliki fungsi yang berbeda, namun yang jelas Paulus membuat persyaratan yang sama antara penatua dan penilik jemaat.

Dalam Alkitab Edisi Studi, menjelaskan bahwa “Penilik jemaat: kata episkopos (Yunani) dapat diterjemahkan dengan uskup atau pengawas jemaat. Pada masa itu, penilik jemaat adalah pemimpin tertinggi di suatu jemaat lokal. Pada zaman belakangan, penilik jemaat ditugasi untuk mengepalai beberapa jemaat di suatu wilayah tertentu.” 11

Peranan penilik jemaat tentu memiliki peranan penting bagi pertumbuhan gereja maupun pengenalan umat akan Tuhan berdasarkan ajaran yang benar, yakni yang alkitabiah.

Pertama, Penilik jemaat hendaknya bukan seorang yang angkuh, yang mementingkan dirinya sendiri atau yang kehidupannya hanya berpusat pada dirinya sendiri. Kedua, Seorang penilik jemaat hendaknya jangan seorang yang pemberang. Pekerjaan Tuhan akan terhalang apabila penilik jemaat suka berkelahi; baik dalam Rumah tangganya maupun dengan jemaat atau lingkungan sekitarnya.

Ketiga, Penilik jemaat janganlah seorang pemabuk. Ada banyak nasehat dalam Alkitab yang menuntut supaya seseorang menjauhkan diri dari minum-minuman keras atau menjadi pecandu minuman anggur yang memabukkan. Keempat, Penilik jemaat hendaknya bukan seorang pemarah sebab seorang pemarah tidak dapat menguasai dirinya.

Kelima, Penilik jemaat hendaknya tidak serakah. Sikap serakah membuat seseorang akan selalu hidup dikuasai oleh keinginannya saja, tanpa memperhatikan kehidupan jemaat dan kehendak Tuhan.

c. Memiliki Kasih dan Memiliki Ajaran Sehat (Titus 1:8-9)

Ayat 8 dan 9 ini, masih berkesinambungan dengan ayat sebelumnya yaitu ayat 6. Kedua ayat ini adalah kelanjutan dari persyaratan penatua atau penilik jemaat. Dalam persyaratan yang disampaikan Paulus pada nats ini, penulis membagi penjelasannya dalam dua hal.

Pertama, Memiliki kasih. Seorang penilik jemaat haruslah memiliki kasih. 

(a). Suka memberi tumpangan. Penilik jemaat seharusnya bersedia memberi tumpangan kepada orang lain yang tentunya bagi mereka yang membutuhkan tumpangan atau menyediakan tempat untuk beristirahat.

(b). Suka akan yang baik. Penilik jemaat seharusnya gemar melakukan hal-hal apa saja yang baik, termasuk keluarga dan orang lain.

(c). bijaksana, adil, saleh, dan dapat menguasai diri.

Kedua, Memiliki ajaran sehat. Para Penatua atau penilik jemaat adalah seorang yang berpegang kepada perkataan yang benar, yang tentunya sesuai dengan ajaran yang sehat.

Dengan demikian ia sanggup menasihati orang lain dengan ajaran yang sehat yakni berdasarkan ajaran para rasuli akan Firman Tuhan. Bahkan sanggup mengajarkan ajaran yang sehat kepada mereka yang menentang ajaran yang benar itu sendiri.

3. Ajaran Sesat dan Pengajar Sesat (1:10-16)

Persoalan yang muncul di dalam jemaat yang ada di Kreta ialah adanya ajaran sesat dan pengajar sesat yang ada di tengah-tengah mereka. Pengajaran yang muncul merupakan suatu ajaran sesat, sebab ajarannya berpegang pada hukum sunat. Paulus menyebut mereka adalah orang yang hidupnya tidak tertib.

Dalam Alkitab Edisi Studi dijelaskan, “Tidak tertib … menyesatkan pikiran: sejumlah orang kristen Yahudi di Kreta mengajarkan bahwa setiap laki-laki harus disunat. Itulah yang disebut omongan yang sia-sia dalam ayat ini.” 12

Omongan mereka yang sia-sia itu merupakan sesuatu yang menyesatkan pikiran. Pesan Paulus orang-orang semacam itu harus dibungkam mulutnya sebab mereka ternyata mengacau banyak keluarga dengan ajaran yang sia-sia tersebut, yakni mereka mengajarkan yang tidak-tidak untuk mendapat untung yang memalukan.

Bahkan, ada seorang dari kalangan mereka sendiri yang disebut Paulus nabi mereka sendiri pernah berkata “dasar orang Kreta pembohong, binatang buas, pelahap yang malas”.

Kata “Dasar orang Kreta … pelahap yang malas: dikutip dari pernyataan Epimenides yakni filsuf Yunani yang dulunya tinggal di Kreta sekitar tahun 600SM.”  13

Di sini Paulus sependapat dengan apa yang dikatakannya.

Karena itu, ia menghimbau Titus untuk menegor mereka dengan tegas supaya jemaat Kreta menjadi sehat dalam iman dan mereka pun tidak lagi mengindahkan dongeng-dongeng Yahudi serta hukum-hukum manusia yang berpaling dari kebenaran.

Sebagaimana dijelaskan dalam Alkitab Edisi Studi, bahwa: “Dongeng-dongeng Yahudi dan hukum-hukum manusia: pada masa itu, beredar banyak tulisan tentang tokoh-tokoh yang ada di silsilah-silsilah dalam kitab Kejadian. Cerita-cerita yang amat dibesar-besarkan itu dianggap sebagai kebenaran dalam berbagai tulisan Yahudi dan tulisan kelompok-kelompok keagamaan yang disebut kelompok Gnostk.” 14

Paulus mengategorikan mereka mengaku mengenal Allah, tetapi sebenarnya mereka yang mengikuti ajaran sesat tersebut adalah mereka menyangkal Dia. Sikap mereka disebut Paulus keji dan durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik.

 

4. Sikap dalam Penggembalaan (2:11-15)

Dalam Eklesiologi tentu ada kaitannya dengan penggembalaan sebab gereja yang benar tentu karena adanya penggembalaan yang benar pula. Titus 2:11-15 adalah terkait dengan Eklesiologi yakni mengajarkan ajaran yang benar kepada jemaat dalam lingkup penggembalaan.

Di sini Paulus memberikan instruksi kepada Titus untuk memberitakan apa yang sesuai dengan ajaran sehat terhadap laki-laki tua, wanita tua, perempuan-perempuan muda, orang-orang muda, hamba-hamba untuk melakukan yang seharusnya seperti himbauan Paulus dalam pasal 2:1-10.

 

 

C. Kristologi (2:11-15)

Kata Kristologi berasal dari bahasa Yunani kristos (Kristus) dan logos (kata/ilmu), singkatnya ilmu pengetahuan atau doktrin mengenai pribadi Kristus. 15 Kristologi dalam Surat Titus ini terdapat dalam ayat 13-15 namun penulis akan menjelaskan dari ayat 11-15 dikarenakan ada keterkaitannya dengan pribadi Kristus yang disampaikan Paulus kepada Titus.

Pada ayat 11, disini menyinggung tentang Soteriologi atau keselamatan secara singkat, yakni “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan manusia sudah nyata”. Kasih karunia yang dimaksud tentu adalah keselamatan yang dikerjakan Kristus melalui pengorbanan salib. Dikatakan Paulus keselamatan itu sudah nyata oleh kasih karunia Allah.

Kasih karunia Allah itu sendiri yang menyelamatkan umat manusia ialah yang mendidik orang percaya agar meninggalkan kefasikan dan keinginan dunia supaya hidup bijaksana, adil, dan setia beribadah sembari menantikan penggenapan pengharapan yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Maha Besar dan Juruselamat, yaitu Yesus Kristus Tuhan.

Baca juga: 3 KEHEBATAN KRISTUS DALAM KEDATANGAN-NYA KEDUA KALI

Kristologi dalam bagian ini di mana Paulus menjelaskan bahwa Kristus telah menyerahkan dirinya bagi umat manusia, untuk membebaskan setiap orang dari segala kejahatan dan untuk menguduskan umat sebagai kepunyaan Tuhan sendiri yang rajin berbuat baik, untuk kemuliaan-Nya.

Penjelasan Kristologi di sini adalah mengenai perbuatan Kristus dalam konteks keselamatan umat manusia dan peranan Kristus terhadap umat pilihan-Nya, yakni melepaskan dari belenggu dosa, diselamatkan, dan menerima hidup kekal.

Pada ayat 15, dalam kaitannya dengan Kristologi, yaitu perbuatan Kristus dalam misi keselamatan, Paulus mengatakan kepada Titus bahwa ia harus memberitakan Kristologi-Soteriologi bagi jemaat Kreta serta menasehati mereka dan meyakinkan mereka dengan segala kewibawaannya sebagai hamba atau pengajar Kristen.

Pesan Paulus adalah janganlah ada yang menganggap engkau rendah dalam arti pengajarannya dan keteladannya harus sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.

 

Baca selanjutnya: Klik NEXT di bawah ini, atau klik DI SINI untuk melanjutkan ke isi artikel berikutnya

Loading...

Tinggalkan komentar Anda

error:
Shalom...
Mau curhat? Atau mau bertanya?
Powered by