12 Murid Tuhan Yesus dan Kisah Imannya (Bag. 1)
2. Petrus Murid Tuhan Yesus Saudara Andreas
Petrus yang adalah saudara kandung Andreas ini (Mat. 10:2), dilahirkan di Betsaida (Yoh. 1:44). Nama ayahnya ialah Yona, Yunus, atau Yohanes (Mat. 16:17, Yoh. 1:42, 21:15). Mungkin sekali Simon Petrus bersama saudaranya, pindah dan tinggal serta bekerja sebagai nelayan di Kapernaum dan berjumpa dengan Yesus (Mrk. 1:29; Luk. 4:38).
Baca juga: 5 FAKTA YESUS BENAR-BENAR MATI DISALIBKAN
Ia berprofesi sebagai penjala ikan sebelum dipanggil Tuhan Yesus menjadi murid-Nya. Mulanya adalah Andreas yang bertemu Tuhan Yesus dan kemudian bersaksi kepada Petrus, serta membawa dan memperkenalkannya kepada Tuhan Yesus.
Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).” (Yoh. 1:41-42)
Kemudian, ia dipanggil bersama Andreas, saudaranya menjadi murid, ketika mereka sedang menjala ikan (Mat. 4:18-19).
Ia termasuk murid yang “terdekat” Tuhan Yesus, bersama Yakobus dan Yohanes (Mrk. 5:37; 9:2; 14:33). Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa penting, di mana Tuhan Yesus sering melibatkan mereka tanpa kehadiran sembilan murid lainnya.
Di antara para murid Tuhan Yesus lainnya, nama yang paling banyak disebutkan dalam Alkitab adalah Petrus yang sering menonjolkan diri, menjadi pemimpin, dan “juru bicara” tidak resmi dari murid-murid-Nya yang lain.
Petrus adalah nama pemberian dari Tuhan Yesus, sedangkan nama aslinya adalah Simeon atau Simon, yakni nama dari bahasa Aram yang berasal dari kata Shim’on, yang artinya, “mendengar”. Bentuk Yunani Simeon adalah Σίμων, Simon.
Kefas dan Petrus mempunyai arti yang sama. Kata Petrus atau Πέτρος, Petros adalah terjemahan Yunani dari kata Kepha atau Kefas dari bahasa Aram, yaitu “batu karang” (Yoh. 1:41-42). Pemberian nama baru ini menyiratkan pribadi dan kepemimpinan Petrus atas murid-murid lain dan atas gereja-Nya kelak, yang diteguhkan-Nya kembali di Kaisarea Filipi (Mat. 16:15-19).
Terkait dengan temperamen, kepribadian Petrus ini bisa dikategorikan “sanguin”. Ia adalah seorang “bermulut besar”, berhati ramah, suka menurut kata hati dan bertindak cepat, yang dikuasai oleh dorongan pada saat itu juga.
Ia termasuk salah satu murid Tuhan Yesus yang menonjol, karena paling banyak mengungkapkan dirinya daripada murid-murid yang lain. Ia memiliki sifat alamiah yang amat menarik dan pendidikan yang ia terima dari Tuhan Yesus, membuat banyak orang terpikat olehnya.
Dalam berbicara dan bertindak, Simon Petrus melakukan dengan satu cara yang khusus mengungkapkan sifatnya. Ia tidak pernah meniru gaya dan kepribadian orang lain. Keaslian yang dimilikinya merupakan salah satu modal dalam kepemimpinannya yang sejati.
Puncak dari “bermulut besar” Petrus ini adalah ketika ia bersumpah atau berjanji dengan tegas di hadapan Tuhan Yesus, bahwa ia bersedia mati bersama-Nya. Namun faktanya ketika Tuhan Yesus ditangkap, ia malah menyangkal-Nya sebanyak tiga kali.
Pasca kebangkitan Yesus, Tuhan Yesus sendiri menyatakan Diri-Nya secara khusus kepada Petrus (Luk. 24:34). Kemudian Ia memulihkan kembali panggilan Petrus dan memberinya tugas untuk diembannya, yakni menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh. 21:15-19).
Baca juga: SURAT TITUS: PENTINGNYA MENGETAHUI TEOLOGI PAULUS DALAM SURAT TITUS
Pemulihan ini diperlukan oleh Simon Petrus, karena ia tidak konsisten dengan perkataannya (asbun) dan pernah menyangkal Tuhan Yesus. Penyesalannya akan dosa tersebut berbuah kepada perubahan paradigma dan semakin mengerti atas kehendak khusus Tuhan Yesus atas dirinya.
Tampuk kepemimpinan gereja mula-mula dipercayakan oleh-Nya kepada Petrus setelah Ia naik ke Sorga dan Roh Kudus telah dicurahkan. Petruslah yang memimpin 120 orang murid yang berdoa menantikan turunnya Roh Kudus, dan yang berinisiatif untuk memilih pengganti Yudas Iskariot yang berkhianat (Kis. 1:12-22).
Perubahan besar dalam diri Simon Petrus termasuk karakter dan paradigma atau pola pikir secara menyeluruh, terjadi ketika di hari Pentakosta. Di mana pada hari raya tersebut, bertepatan terjadi pencurahan Roh Kudus. (Lihat juga: 10 hari Raya Yahudi)
Ia tampil pertama kali sebagai pengkhotbah. Ia berdiri mewakili para murid dan berkhotbah kepada orang-orang Yahudi di Yerusalem, sebanyak 3000 jiwa (Kis. 2:14-40).
Apakah perubahannya karena tampil spektakuler berkhotbah di hadapan orang banyak? Tidak. Ia sebelumnya terbiasa tampil bersama Tuhan Yesus di depan orang banyak, percaya diri tinggi, dan suka mencari panggung. Apa bukti dari perubahannya? Karakternya berubah dari “bermulut besar” menjadi berintegritas dan penuh keberanian.
Selain itu, paradigmanya juga berubah di mana ia bersama murid lainnya berpikir bahwa Tuhan Yesus hendak memulihkan kerajaan fisik Israel dan ia menjadi salah satu menterinya (Kis. 1:6, Maka bertanyalah mereka …: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”). Namun, akhirnya ia mengerti bahwa Kerajaan Yesus bukan di dunia ini.
Peran Petrus sering menonjol di kalangan para Murid-Nya, karena ia sering dianggap sebagai pemimpin dalam kelompok Rasul, sebab selain kepribadiannya yang “percaya diri”, juga kedekatannya dalam memperhatikan kebutuhan Yesus.
Selain itu, karena memang Petrus dipilih Yesus untuk menjadi dasar gereja-Nya. Dialah pertama kali yang menjadi pemimpin gereja mula-mula di Yerusalem sebelum digantikan oleh Yakobus saudara tiri Yesus yang juga termasuk salah satu pemimpin Gereja Mula-Mula. juga yang memegang otoritas untuk mendisiplin jemaat (Kis. 5:1-11).
Salah satu CEO atau manajer Tuhan Yesus (dalam istilah modern) yang dipercayakan-Nya untuk membangun dasar dan mengembangkan Gereja selain murid-murid lainnya, ialah Petrus. Ia berperan penting dalam perkembangan dan pertumbuhan Jemaat atau Gereja Mula-mula dalam kurun waktu yang cukup lama.
Sejarah dan juga tradisi Gereja menyebutkan bahwa Simon Petrus melakukan pelayanan sampai masa tuanya dan hingga akhir hayatnya di Roma.
Kiprahnya ialah ia memimpin para rasul dalam pemberitaan Kabar Baik kepada orang-orang Yahudi (Kis. 3:11-26). Dan ketika Samaria menerima Injil, maka Petruslah bersama dengan Yohanes yang pergi ke sana.
Ia juga sebagai utusan Tuhan yang pertama kali memberitakan Injil kepada orang-orang non-Yahudi (Kis. 10:1-48). Namun saat itu Petrus lebih dikenal sebagai rasul bagi orang-orang Yahudi (Gal. 2:7-9).
Baca juga: GENERASI PENYEMBAH: 3 CARA MENJADI PENYEMBAH BAPA
Pada sidang para pemimpin gereja di Yerusalem, ia yang pertama mendesak agar gereja menerima orang-orang non-Yahudi hanya melalui iman kepada Yesus Kristus, tanpa perlu disunat terlebih dahulu (Kis. 15:6-11).
Pelayanan Petrus tidak hanya di Yerusalem, ia juga sering melakukan perjalanan pelayanan ke kota-kota lain di luar Yerusalem. Ia pergi ke Lida dan Yope (Kis. 9:32-43), Antiokhia (Gal. 2:11) dan mungkin ke Korintus (1 Kor. 1:12). Selain itu, ia dikatakan juga pergi ke kota Roma, pusat kekaisaran Romawi.
Dan tradisi mengatakan bahwa di kota Roma-lah ia meninggal bersama Paulus, pada masa penganiayaan Kaisar Nero. Satu-satunya kisah yang tentang kemartiran Petrus berasal dari penulis Kristen awal, Hegesippus. Ketika Petrus sudah tua (Yoh. 21:18), Nero hendak merencanakan untuk menghukum mati Petrus.
Ketika murid-rnuridnya mendengar ancaman dari kaisar Nero, mereka memohon kepada Petrus untuk melarikan diri dari kota itu (mungkin adalah Roma) dan ia melakukannya. Namun, ketika tiba di pintu gerbang kota, ia melihat Kristus yang berjalan ke arahnya.
Ia pun menjatuhkan diri bertelut dan berkata, “Tuhan, Engkau mau pergi ke mana?” Kristus menjawab, “Saya datang untuk disalibkan lagi.” Melalui penglihatan tersebut, Petrus akhirnya tahu, bahwa ini waktunya ia untuk menderita dan mati bagi Yesus dan memuliakan Allah melalui kematian-Nya (Yoh. 21:19). Jadi, ia pun kembali ke kota.
Setelah ditangkap dan dibawa ke tempat eksekusi. dikatakan ia meminta agar disalibkan dengan posisi terbalik, karena ia memandang dirinya tidak layak untuk disalibkan dalam posisi yang sama dengan Tuhannya. Kuat dugaan bahwa makam Petrus terdapat di dasar gedung gereja Basilika di kota Roma (Vatikan), gereja terbesar di dunia.
Baca juga: SERUAN BERIBADAH DENGAN BERSORAK-SORAK – EKSPOSISI MAZMUR 100
Selain masa hidupnya begitu memberkati menjadi kesaksian dan inspirasi bagi orang Kristen Mula-Mula, ia juga meninggalkan warisan berharga bagi umat Kristen di seluruh dunia. Yakni, berupa Kitab Suci, yaitu surat 1 Petrus dan 2 Petrus, yang ditulisnya berdasarkan ilham dari Roh Kudus dan diduga kuat ditulisnya dari kota Roma.
Selain itu, menurut tradisi dan penelitian para pakar Alkitab, pengaruh Petrus juga sangat kuat di dalam penulisan kitab Injil Markus, sebab penulis Injil Markus termasuk murid yang dekat dengannya. Di kota Roma ia menjadi Martir, dengan cara disalibkan kepala di bawah oleh Kaisar Nero, antara thn 64 – 67 M.
3. Yakobus Murid Tuhan Yesus Saudara Yohanes
Nama Yakobus dalam bahasa Inggris ialah James, berasal dari bahasa Yunani, Ἰάκωβος (Iakobos), yang diambil dari bahasa Ibrani, Ya’qov atau Yakub, yang artinya “si pegang tumit, penipu”. Nama ayahnya adalah Zebedeus.
Sebutan Yakobus anak Zebedeus (Mat. 4:21; Mrk. 3:17), selain Penulis Injil menginformasikan bahwa ia adalah anak Zebedeus, juga untuk membedakan nama-nama yang sama dalam kitab-kitab Injil. Yakobus dan Yohanes memiliki hubungan saudara, karena itu keduanya disebut anak-anak Zebedeus.
Baca juga: 3 FAKTA TUHAN ITU ADA TANPA BUKTI ALKITAB
Sepertinya, Yohanes lebih muda dari Yakobus, sebab di kitab-kitab Injil namanya selalu disebut sesudah Yakobus. Ibu Yakobus disebutkan dalam Matius 27:56, adalah salah seorang perempuan yang melihat langsung peristiwa penyaliban Tuhan Yesus, sedangkan dalam markus 15:40, pada peristiwa yang sama, disebut namanya“Salome”.
Jadi, Salome adalah Ibu Yakobus dan Yohanes. Dan jika dihubungkan dengan Yohanes 19:25, maka Salome adalah saudara Maria, ibu Tuhan Yesus. Berarti Yakobus adalah saudara sepupu Tuhan Yesus. Namun kekerabatannya dengan Tuhan Yesus tidak mengurangi rasa hormat kepadaNya, sebagai Sang Guru.
Meski tidak diceritakan kepribadian Zebedeus dan kepemilikannya secara detail, namun dapat dikatakan, ia adalah seorang pebisnis yang takut akan Tuhan. Pekerjaan Zebedeus adalah nelayan yang sukses, sebab ia memiliki pekerja atau orang upahan (Mrk 1:20).
Bahkan sebuah tradisi menyebutkan bahwa keluarga Yakobus memasok ikan untuk keluarga imam besar. Jelaslah Yakobus berasal dari keluarga berada. Sifat Zebedeus yang takut akan Tuhan terlihat dari ia tidak keberatan anak-anaknya meninggalkan pekerjaan dan mengikut Tuhan Yesus.
Ia juga tidak keberatan bila istrinya lebih banyak waktu mengikut dan melayani rombongan Tuhan Yesus dengan “kekayaan mereka” (Luk. 8:3; Mat. 7:55-56).
Hidup berkecukupan bahkan memiliki bisnis keluarga yang mapan, tidak membuat Yakobus mengabaikan “perkara rohani”. Ia termasuk orang yang menantikan kedatangan Mesias sebagaimana pengharapan orang Yahudi pada masa itu.
Kemungkinan bukan baru pertama kali ia bertemu Tuhan Yesus, bila memang ia saudara sepupu Tuhan Yesus. Bisa saja ia tahu persis tumbuh kembang Tuhan Yesus, atau bisa juga mereka bertumbuh bersama.
Dan rentetan peristiwa yang terjadi semasa Tuhan Yesus belum terjun dalam pelayanan, kemungkinan membuat Yakobus makin dikuatkan bahwa Dialah Mesias yang dijanjikan menurut konsep Yahudi. Yakni, Mesias datang sebagai Raja politik yang membebaskan bangsa Israel dari penjajahan Romawi.
Atau bisa juga Yakobus meyakini Tuhan Yesus sebagai “Anak Domba Bapa” melalui cerita Yohanes. Sebab saudaranya ini adalah salah satu murid Yohanes Pembaptis (Yoh. 1:35-37,41).
Baca juga: 8 AKIBAT MENOLEH KE BELAKANG, PENTING DISIMAK
Selain itu, Yakobus Takjub menyaksikan mujizat di mana mereka mendapat ikan yang berlimpah, ketika Tuhan Yesus menyuruh Petrus bertolak lebih dalam dan menebarkan jala. Padahal sudah semalam-malaman mereka mencari ikan namun tidak ada hasilnya.
Peristiwa ini meneguhkan hatinya bahwa Yesus bukan “orang biasa”. Itu sebabnya ketika Yesus memintanya mengikut Dia sewaktu ia dan Yohanes membereskan jala, Yakobus pun bergegas meninggalkan pekerjaan dan ayahnya (Mat 4:21-22).
Mungkin ini adalah momen bersejarah baginya, awal di mana ia mengalami “lahir baru” ketika ia memutuskan menjadi murid Kristus. Kata mengikut (Yun: ἀκολουθέω atau akoloutheo, Ing: to follow, follow as disciple) yang juga berarti menjadi Murid, merupakan keputusan besar Yakobus yang mengubah dirinya menjadi salah satu tokoh ternama di Alkitab PB.
Yakobus salah seorang yang tidak mau melewatkan kesempatan yang besar dalam hidupnya sebagai anugerah yang terindah dari Tuhan. Keputusannya mengikut Tuhan tidaklah sia-sia, ternyata ia dipilih Tuhan Yesus menjadi salah seorang rasul di antara 12 rasul.
Kepribadian Yakobus ini termasuk watak yang keras, berambisi, dan emosi yang kurang terkontrol mirip dengan sikap saudaranya Yohanes. Itu sebabnya Tuhan Yesus memberikan gelar kepada kedua orang ini dengan sebutan Boanerges atau anak-anak guruh.
Memang tidak disebutkan dengan jelas mengapa Tuhan Yesus memberikan sebutan Boanerges, namun sangat mungkin karena karakter mereka seperti halilintar atau guntur yang menggelegar.
Selain menjadi salah satu rasul, ia juga salah satu dari ketiga orang yang dekat dengan Tuhan Yesus, yakni bersama Petrus, dan Yohanes. Injil banyak mencatat bahwa ketiga orang ini sering diajak Yesus dalam beberapa peristiwa Penting (Mrk. 1:29; 5:7; 14:33).
Baca juga: 7 FAKTA SEPUTAR LGBT YANG PERLU ANDA KETAHUI
Ia juga melihat Tuhan Yesus berbicara dengan Musa dan Elia dengan wajah yang bercahaya dan berpakaian putih bersinar (Mat. 17:1-3). Ia ada berada dekat dengan Tuhan Yesus, tentu juga didasarkan oleh keinginannya untuk selalu dekat dengan Tuhan.
Murid-murid Tuhan Yesus, pada dasarnya memiliki ambisi menjadi yang terbesar di antara mereka, sebagaimana mereka sempat memperdebatkannya (Mrk. 9:33-34; Luk. 9:46). Namun, mungkin tidak ada yang seberani Yakobus dan saudaranya yang langsung meminta kepada Tuhan Yesus.
Ambisi menjadi terbesar mendorongnya untuk memohon langsung kepada Yesus. Bahkan ibunya pun datang meminta kepada Tuhan Yesus (Mat. 20:20-21). Sepertinya mereka memanfaatkan pengaruh ibunya, Salome sebagai bibi Tuhan Yesus, sehingga mungkin mereka berpikir, ketika sang ibu meminta, Tuhan Yesus tak kuasa menolaknya.
Namun jawaban Tuhan Yesus kembali menantang Yakobus, apakah mereka dapat meminum cawan dan dibaptis dengan baptisan seperti yang akan dialami Yesus. Dengan penuh semangat Yakobus berkata bahwa ia bersedia untuk menderita bagi kebenaran, “kami dapat”.
Lantas Tuhan Yesus menjawab untuk berada di kanan dan kiri-Nya adalah ketentuan Bapa, (Mat. 20:23). Mendengar jawaban Yesus, kesepuluh murid lainnya memarahi keduanya karena memaksakan ambisi mereka. Namun, Tuhan Yesus kembali berkata agar menjadi terbesar haruslah bersedia menjadi pelayan atau hamba (Mat. 20:26-28).
Peristiwa Tuhan Yesus ditolak di sebuah desa di Samaria, sempat membuat geram Yakobus dan saudaranya. Penolakan yang kasar ini membuat Yakobus dan saudaranya menjadi marah. Sikap orang Samaria yang dianggap sebagai penghinaan kepada Sang Guru yang mereka hormati, membuat amarah Yakobus bergejolak.
Tidak tanggung-tanggung mereka hendak membalas perlakukan orang Samaria di desa tersebut. Itu sebabnya Yakobus dan saudaranya meminta izin kepada Tuhan Yesus, bila ia mau atau mengizinkan, mereka akan menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan orang Samaria di desa itu.
Baca juga: 7 FAKTA TUHAN YESUS MATI PADA HARI JUMAT
Permintaan mereka ini dibalut dengan amarah, kebencian, dan pembalasan dendam. Barangkali, inilah salah satu alasan Tuhan Yesus menyebut mereka Boanerges, yang karena perangai keduanya yang mungkin memiliki karakter yang tidak sabaran, ambisius, dan amarah yang begejolak seperti gemuruh halilintar.
Sikap yang kelihatannya membela Tuhan Yesus itu, tidak bisa dibenarkan. Tuhan Yesus lantas menegor mereka dengan berkata, dalam Alkitab Bahasa Yunani, … καὶ εἶπεν, Οὐκ οἴδατε οἵου πνεύματός ἐστε ὑμεῖς, (… kai eipen, ouk oidate hoiou pneumatos este humeis,).
KJV menerjemahkan, “… Ye know not what manner of spirit ye are of.” Artinya, Kalian tidak tahu roh mana yang menguasai kalian.”
Di sini Tuhan mengingatkan Yakobus akan pemikiran mereka yang dikuasai roh jahat atau watak yang buruk, amarah, kesombongan, nafsu, dan dendam pribadi yang tersembunyi dengan dalih semangat membela sang Guru mereka. Sikap seperti itu, tidak berkenan bagi-Nya.
Meski emosi Yakobus bergejolak, namun mereka masih bersikap tunduk pada niat baik dan perkenan Tuhan Yesus. Peristiwa ini tentu termasuk pada proses pembentukan karakter Yakobus.
Latar belakang profesi Yakobus, jelas adalah seorang nelayan. Berbicara tentang nelayan tentu berbicara tentang karakter si pemberani, sebab seorang nelayan berani menghadapi risiko, gelora, gelombang, dan amukan laut.
Selain itu, seorang nelayan juga memiliki jiwa juang atau tidak mudah putus asa, sebab bila tidak ada hasil penangkapan, tentu ia akan kembali mencoba menebar jala bila ia merasa ada segerombolan ikan di sekitarnya.
Danau Galilea, bukan tanpa risiko juga, Tuhan Yesus pernah meredakan angin ribut di danau itu (Mat. 8:23-27; Luk. 8:22-25). Jadi, karakter Yakobus termasuk seorang pemberani dan tak mudah putus asa.
Namun setelah Tuhan Yesus ditangkap, Yakobus salah satu murid yang melarikan diri (Mat. 26:56b; Mrk. 14:50). Rupanya keberanian Yakobus menciut ketika berhadapan dengan ancaman nyawa. Bila di tengah danau, ia berani menghadapi berbagai tantangan yang mengancam nyawanya, tetapi di darat ia malah ketar-ketir.
Mungkin juga ia mulai putus asa dengan apa yang ia harapkan tentang Mesias yang dianggapnya datang sebagai raja politik. Padahal Yesus datang sebagai Mesias rohani, dimana Ia harus menderita, bahkan mati di atas kayu salib untuk menebus dosa manusia, dan pada hari ketiga Ia akan bangkit.
Baca juga: 6 HAL TENTANG MENJALIN RELASI DENGAN BAIK
Namun hal ini tidak dimengerti oleh Yakobus dan murid-murid-Nya meski Tuhan Yesus beberapa kali menceritakan penderitaan yang akan dialamiNya. Bisa dibayangkan betapa hancurnya hati Yakobus ketika mendengar Sang Guru yang dikagumi ditangkap, disiksa, dan disalibkan, namun ia tak bisa berbuat apa-apa, malah ia bersembunyi.
Ketakutan, putus asa, dan kekecewaan seketika, sirna kala ia mendengar dan melihat Kristus telah bangkit. Pasca kenaikan Kristus ke Sorga, Yakobus bersama murid-murid lainnya, perempuan-perempuan termasuk Maria, Ibu Yesus, dan saudara-saudara Yesus, berkumpul di ruang atas rumah yang ada di kota itu.
Mereka bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama menantikan janji Bapa (Kis. 1:4; 2:1-4). Ketekunan Yakobus dalam menantikan janji Bapa bukan tanpa hasil, selain ia menjadi salah satu pemimpin gereja mula-mula, ia juga berani memberitakan Kabar baik meski nyawa taruhannya.
Tradisi masyarakat kuno mengatakan bahwa sebelum dibunuh Herodes, Yakobus berangkat menuju Hispania dan mengadakan perjalanan memberitakan kabar baik di Galicia, Spanyol, Guimaraes, Portugal, dan Rates.
Perlombaan iman yang dijalani oleh Yakobus begitu singkat. Dialah rasul pertama dari 12 Rasul lainnya yang meninggal sebagai Martir. Kematiannya ini menggenapi perkataan Tuhan Yesus dalam Markus 10:39, bahwa ia dapat meminum cawan, yang artinya akan mengalami kematian karena Kerajaan Sorga.
Mungkin hal itu diizinkan terjadi supaya ia boleh duduk di sebelah kanan Kristus. Yakobus mati kira-kira pada tahun 44 M, oleh perintah Herodes Agripa I yang menyuruh anak buahnya agar Yakobus dihukum mati dengan pedang.
Meski kiprah pelayanan Yakobus tidak diceritakan dalam Kisah Para Rasul, namun rasul Yakobus adalah salah satu pemimpin gereja mula-mula, di samping Petrus dan Yohanes. Itu sebabnya mengapa Herodes terlebih dahulu membunuh Yakobus.
Alasan lain Herodes membunuh Yakobus mungkin tersinggung oleh khotbahnya. Mathew Henry mengatakan, “Kemungkinan besar karena khotbahnya yang kuat dan membangun, ia telah menjengkelkan hati Herodes atau orang-orang yang ada di sekitarnya. Sama seperti yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis terhadap Herodes yang lain.”
Menjelang Yakobus di eksekusi, Clement dari Alexandria mengisahkan bahwa salah seorang yang menangkap Yakobus, tersentuh oleh pengakuan iman Yakobus hingga ia menjadi seorang Kristen dan diekseskusi bersama Yakobus.
Sebelum dibunuh, prajurit yang percaya itu merangkul Yakobus dan berulangkali meminta maaf kepadanya. Yakobus pun menjawab: “Damai sejahtera bagimu!” Dengan penuh sukacita, keduanya melambungkan pujian terakhir dengan menyerahkan nyawa mereka kepada Tuhan.
Demikianlah Yakobus membuktikan komitmen dan kesetiaannya kepada Tuhan Yesus bahwa ia bersedia minum cawan dan dibaptis dengan baptisan kesengsaraanNya. Kematian Yakobus juga membangkitkan semangat baru bagi jemaat Kristen Mula-Mula (Kis 12:24).
Selain Yudas Iskariot, hanya kematian Yakobuslah yang dicatat di Alkitab. (Lihat juga: 7 Fakta tentang Yakobus Anak Zebedeus)
Baca selanjutnya: Klik NEXT di bawah ini, atau klik DI SINI untuk melanjutkan ke isi artikel berikutnya.


Terima kasih Saudara Julian. Tuhan memberkati pelayanannya. sgt diberkati dgn informasi di dalam artikel ini.